Verified

Update 9 November 2015; BNPB: 13 Pos Evakuasi Didirikan

Lokasi     : Rinjani
Tanggal     : Nov 9 2015
Jam     : 20:35 | WIB

Detail Informasi
Update 9 November 2015 06:59 WITA; Aktivitas G. Barujari, G. Rinjani

BNPB:
Aktivitas Gunung Barujari Makin Meningkat, 13 Pos Evakuasi Didirikan
9 November 2015 18:56 WIB

LOMBOK - Hingga saat ini aktivitas Gunung Barujari anak Gunung Rinjani di Pulau Lombok sangat aktif dan erupsi menerus. Berdasarkan laporan PVMBG pada Senin (9/11) pengamatan visual cuaca mendung, angin sedang dari barat, gunung tertutup kabut. Suhu udara 28 C, kelembaban 85%. Dari kegempaan tremor menerus amax: 1-26 mm dominan 8 mm, lama gempa 143 detik.

Aktivitas gunung sangat aktif letusan terus menerus. Aliran lava sudah mencapai 1 km dari arah timur Gunung Barujari hampir ke permukaan mulut Sungai Koko Putih sehingga terjadi peningkatan luapan air dan peningkatan suhu air yang sebelumnya berkisar 21 derajat Celcius saat ini meningkat menjadi 36-39 derajat Celcius. Apabila air melimpah akan berpotensi banjir di sepanjang Sungai Koko Putih.

Letusan material pijar mencapai 750 m dengan ketinggian asap mencapai 2.500 m lebih dari puncak Gunung Barujari atau 5.000 m dari permukaan laut. Kondisi erupsi saat ini jauh lebih besar dibanding tahun 2004 dan 2009 .

Untuk itu masyarakat yang berada di sepanjang Sungai Koko Putih agar menjauh dan tidak melakukan aktivitas apapun. BPBD Provinsi NTB telah mengkoordinir BPBD Kabupaten/Kota se-Pulau Lombok dan mendirikan 13 Pos Evakuasi/Pengungsian di desa tergolong ring 1 atau jarak dari kawah radius 10 km seputaran Gunung Rinjani. BPBD NTB juga sudah mempersiapkan kondisi terburuk dengan berkoordinasi denfan TNI, Polri, Satpol PP, Tagana, PMI, PVMBG dan unsur lainnya.

Hujan abu menyebar ke arah Barat, Barat Daya dan Selatan tergantung arah angin. Bandara menyesuaikan dengan kondisi sebaran abu vulkanik.

Jumlah masyarakat terdampak abu vulkanik Gunung Barujari mencapai 248.148 jiwa dari lima Kabupaten/Kota di Pulau Lombok. Hingga saat ini belum perlu ada pengungsian.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

-----------------------------

PVMBG:
Evaluasi Data Pengamatan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Hingga 5 November 2015
09 November 2015

Bersama ini kami sampaikan hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Rinjani, Nusa Tenggara Barat hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA sebagai berikut:

I. Pendahuluan

1. Secara geografis, G. Rinjani terletak pada posisi koordinat 8°25’ LS dan 116°28’ BT. Puncak G. Rinjani berada pada ketinggian 3726 m di atas permukaan laut. Pusat aktivitas G. Rinjani saat ini berada di G. Barujari yang berada di dalam Kaldera Rinjani pada posisi koordinat 8°24’ LS dan 116°25’ BT dengan ketinggian 2376 m di atas permukaan laut. Kawah aktif G. Barujari saat ini terletak 300 m timur laut puncak G Barujari.

2. Secara administratif G. Rinjani termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

3. Gunungapi Rinjani diamati secara visual dan instrumental (seismik dan CCTV) dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

4. Data pengamatan G. Rinjani diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi tingkat aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi.

5. Sejarah perkembangan tingkat aktivitas gunungapi:

Pada 2 Mei 2009 pukul 16:30 WITA, tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu

Pada 19 November 2010 pukul 17:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). Hal ini didasari oleh penurunan aktivitas kegempaan dan aktivitas permukaan yang teramati secara visual.

Pada 25 Oktober 2015 pukul 13:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu.



II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual
Pada rentang waktu 25 – 31 Oktober 2015: secara umum cuaca cerah - berawan, angin tenang – sedang dari timur, suhu udara 21 – 28 °C, kelembaban udara 78 – 80 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih tebal dengan tinggi 800 – 900 m di atas G. Barujari.

1 November 2015: secara umum cuaca cerah, angin tenang, suhu udara 21 – 27 °C, kelembaban udara 80 - 81 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah coklat – kelabu tebal dengan tinggi 600 – 1500 m di atas G. Barujari.

2 November 2015: secara umum cuaca cerah - mendung, angin tenang – lemah dari utara, suhu udara 20 – 28 °C, kelembaban udara 81 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah coklat sedang – tebal dengan tinggi 500 - 700 m di atas G. Barujari.

3 November 2015: secara umum cuaca cerah - berawan, angin tenang - sedang dari timur, suhu udara 20 - 31 °C, kelembaban udara 82 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih - coklat sedang – tebal dengan tinggi 600 - 1000 m di atas G. Barujari.

4 November 2015: secara umum cuaca cerah, angin tenang - dari timur, suhu udara 20 - 34 °C, kelembaban udara 80 - 84 %. Gunungapi tampak jelas – tertutup kabut, teramati asap kawah putih kecoklatan sedang – tebal dengan tinggi 700 - 2000 m di atas G. Barujari.

5 November 2015 hingga pukul 06:00 WITA: secara umum cuaca cerah, angin tenang, suhu udara 21 °C. Gunungapi tampak jelas, teramati asap kawah putih - kelabu tebal dengan tinggi 1000 - 1600 m di atas G. Barujari.

(terlampir di Gambar 1)

2.2 Instrumental

1. Pada rentang waktu 25 – 31 Oktober 2015: terekam 49 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 50 mm dan lama gempa 25 – 183 detik. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 41 mm (dominan 3 – 25 mm). 7 kejadian Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo maksimum 1 – 7 mm dan lama gempa 10 – 50 detik. 44 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplitudo maksimum 4 – 27 mm dan lama gempa 2 – 10 detik. 50 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo maksimum 4 – 32 mm, S-P 0,5 – 4 detik dan lama gempa 3 – 70 detik. 11 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 1 - 18 mm, S-P 23 - 147 detik dan lama gempa 54 - 400 detik.

2. 1 November 2015: terekam 9 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 32 mm dan lama gempa 20 – 102 detik. 27 kali Tremor dengan amplitudo maksimum 1 – 14 mm dan lama gempa 99 – 5649 detik. 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 2 - 10 mm, S-P 11 - 30 detik dan lama gempa 54 - 200 detik.

3 November 2015: terekam 10 kali Gempa Letusan dengan amplitudo maksimum 4 – 12 mm dan lama gempa 88 – 122 detik. 3 kali Tremor dengan amplitudo maksiumum 1 – 2 mm dan lama gempa 1660 – 3733 detik. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 23 mm (dominan 3 – 5 mm). 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo maksimum 4 mm, S-P 17 detik dan lama gempa 71 detik.

4.November 2015: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 – 31 mm (dominan 8 - 13 mm).

5.November 2015: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3 – 40 mm (dominan 6 - 11 mm).

6.November 2015 hingga pukul 06:00 WITA: terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 5 – 48 mm (dominan 12 mm).

(terlampir di Gambar 2 dan 3)


III. Evaluasi

1. Tingkat kegempaan G. Rinjani setelah erupsi pertama tanggal 25 Oktober 2015 masih menunjukkan peningkatan terutama dalam amplitudo Tremor. Tremor menerus mulai terekam dari 2 November 2015 pukul 11:09 WITA hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA. Hasil pengamatan langsung ke lapangan yang dilakukan pada 3 – 4 November 2015 menunjukkan bahwa tremor tersebut berkorelasi dengan erupsi yang terjadi secara menerus dari kerucut G. Barujari (Gambar 4).

2. Secara visual aktivitas permukaan G. Rinjani setelah erupsi tanggal 25 Oktober 2015 teramati meningkat. Asap kawah teramati keluar secara menerus dengan tinggi maksimum 2000 m di atas G. Barujari.

3. Secara visual teramati erupsi G. Barujari menghasilkan abu, jatuhan piroklastik yang jatuh di badan G. Barujari dan aliran lava yang mengalir ke arah timur laut kawah (Gambar 5 dan 6). Ancaman bahaya secara langsung berupa jatuhan piroklastik dan aliran lava masih berada di dalam Kaldera Rinjani.

4. Hingga saat ini erupsi masih berpotensi berlanjut yang diindikasikan oleh terekamnya Tremor menerus.


IV.Potensi Bencana

1. Sejarah aktivitas erupsi G. Rinjani dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Barujari yang terletak di dalam Kaldera G. Rinjani.

2. Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Rinjani mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, hujan abu dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dan abu terletak di dalam kaldera, jatuhan abu juga dapat tersebar di sekeliling G. Rinjani tergantung pada arah angin.

3. Ancaman bahaya secara tidak langsung berada di daerah utara G. Rinjani terutama di daerah aliran sungai Kokok Putih yang berhulu di area bukaan kawah. Erupsi di dalam kaldera dapat menyebabkan peningkatan muka air Danau Segara Anak yang selanjutnya berpotensi menyebabkan banjir bandang di Sungai (Kokok) Putih.

(terlampir di Gambar 7: Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani)


V. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka hingga 5 November 2015 pukul 06:00 WITA, G. Rinjani masih ditetapkan dalam tingkat aktivitas Level II (Waspada).

2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat aktivitas G. Rinjani.


VII. Rekomendasi

1. Masyarakat di sekitar G. Rinjani dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas/berkemah di dalam Kaldera G. Rinjani dan di dalam radius 3 km dari kawah G. Barujari yang berada di dalam Kaldera G. Rinjani.

2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan iritasi mata.

3. Masyarakat di sekitar G. Rinjani diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Rinjani.

4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Rinjani.

5. Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani yang terletak di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

----------------------
Aktivitas Gunung BaruJari #Rinjani Update @infobencana 31115 - 91115 #BarujariRinjani

http://chirpstory.com/li/292347

----------------------------

Update 3 November 2015 06:59 WITA; Aktivitas letusan menerus disertai suara gemuruh di Kawah Barujari, G. Rinjani

Letusan G. Rinjani (Barujari) 1 November 2015 pukul 05:52 WITA. Ketinggian asap lk. 1500m di atas puncak G. Barujari

Visual terkini (3 November 2015 06:59 WITA) aktivitas letusan menerus disertai suara gemuruh di Kawah Barujari, G. Rinjani, P. Lombok, Nusa Tenggara Barat. Teramati kolom letusan berwarna putih-kelabu dengan ketinggian lk. 3500m dpl (atau lk. 1000m di atas Kawah Barujari). Abu vulkanik tersebar mengikuti arah angin, yaitu relatif ke Barat.

Saat ini tingkat aktivitas G. Rinjani adalah Level II (Waspada). Agar tidak ada aktivitas masyarakat/pengunjung di dalam kaldera G. Rinjani dan radius 3km dari Kawah Barujari.

-------------------------

Letusan G. Rinjani (Barujari) 1 November 2015 pukul 05:52 WITA. Ketinggian asap lk. 1500m di atas puncak G. Barujari

Pvmbg Cvghm

Letusan G. Rinjani (Barujari) 1 November 2015 pukul 05:52 WITA. Ketinggian asap lk. 1500m di atas puncak G. Barujari atau lk. 3900m di atas permukaan laut. Angin bertiup ke arah Barat-Baratlaut.

G. Rinjani berstatus Level II (Waspada) sejak 25 Oktober 2015. Agar tidak ada aktivitas masyarakat/pengunjung di dalam kaldera Rinjani dan di dalam radius 3000m dari puncak G. Barujari.

------------------------------

Sabda Alam Dalam Letusan Rinjani
Posted on Nov 1 2015 - 9:05am by kicknews.today

senibudaya.kicknews.today – Mulang Pekelem adalah bentuk lain pengorbanan umat Hindu kepada Tuhan. Pengorbanan ini dilakukan dengan menenggelamkan benda-benda berharga, seperti emas, perak, tembaga, dan uang logam ke dalam Danau Segara Anak.

Bagi umat Hindu, gunung ini mempunyai nilai spiritual yang tinggi, magis, dan keramat. Seperti halnya Gunung Himalaya di India atau Gunung Semeru di Pulau Jawa, Rinjani menjadi sebuah tempat yang mempunyai getar kesucian yang tinggi. Tempat para Dewa kerap berkumpul untuk memberikan anugerah kehidupan.

Dan Imran, seorang fotografer asal Ampenan Kota Mataram tak ingin ketinggalan momen penting tersebut, iapun sejak jauh hari sudah mempersiapkan diri untuk bisa mengabadikannya dalam foto. Bersama beberapa orang fotografer dan pendaki lain, Imran menjadi rombongan terakhir hari itu (jumat 23/10) yang menaiki Gunung.

Saat pertama kali sampai di pegadungan, salah satu titik tempat kumpul para pendaki (posko), imran dan rombongannya disuguhi pemandangan kebakaran hutan disisi jalur selatan pendakian, padang savana dan hutan yang ada disekitar Gunung Baru Jari yang berada didekat Danau Segara Anak. Dan, moment itupun tak luput dari bidikan kameranya.

“Api sudah terlihat sekitar jam 05 sore dari sisi selatan Rinjani hari sabtu (24/10). Dan semakin besar saat jam 02.00.” kata imran.

Angin kencang yang berhembus dikawasan Gunung Baru Jari membuat api semakin cepat bergerak, di kawasan ini, tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup dengan harmonis. Itu semua dipercaya berkat pancaran energi dari Sang Gunung.

Air dari Danau Segara Anak mengairi sebagian besar sawah di Pulau Lombok dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Sasak. Tak heran, Gunung Rinjani kerap disebut sebagai gunung kehidupan. Namun, keharmonisan itu seakan lenyap ketika hembusan angin membawa aroma kebakaran menyelimuti para peziarah, pendaki dan wisatawan yang berada di Gunung Rinjani sore itu.

Imran yang sudah beberapakali mendaki Rinjani, merasakan ada perubahan pada ‘wajah’ anak gunung rinjani (Gunung Baru Jari).

“Biasanya, dikawahnya (Gunung Baru Jari) hanya ada satu hembusan asap yang keluar, tapi hari itu ada banyak sekali asap-asap yang keluar dari beberapa titik disekitar kawahnya.” jelas imran.

“Dan yang membuat saya curiga lagi, ada banyak jejak belerang disekitar bibir kawahnya.” lanjut imran.

Kecurigaan imran ternyata benar, hari minggu (25/10) sekitar pukul 10.45 pagi, Gunung Baru Jari meletus.

“Kondisi kepulan asap saat awal letusan tidak terlalu besar, namun pihak Basarnas yang ikut dalam rombongan sudah memperingatkan dan ingin melakukan upaya evakuasi terhadap para pendaki karena dikhawatirkan letusan makin membesar, tapi ditolak oleh rombongan yang akan melaksanakan ritual dengan alasan, ritual wajib harus diselesaikan.”

Pihak Basarnas akhirnya memberikan kesempatan panitia acara “Mulang Pekelem” untuk melanjutkan acara ritual, tetapi dengan mengkondisikan kegiatannya karena situasi di sekitar Gunung Rinjani tidak memungkinkan bagi keselamatan.

“Acara keagamaan itu sebenarnya akan berlangsung hingga hari selasa, puncak acaranya. Namun karena kondisi Gunung yang tidak bersahabat, pihak panitia akhirnya setuju untuk mempercepat prosesi.”

Imranpun terpaksa harus menunda keinginannya untuk bisa mengabadikan ritual acara Mulang Pekelem dari awal sampai akhir. Namun beberapa momen, baik momen ritual acara maupun momen letusan gunung masih sempat diabadikannya.

“Tak seberapa, setidaknya cukup sebagai sebuah dokumentasi yang bisa menjadi pengingat dan pembelajaran bagi kita. Bahwa keharmonisan, keseimbangan hubungan antara manusia dan alam harus tetap dijaga.” katanya.

Gunung Barujari atau yang disebut Gunung Baru berada di sisi timur kaldera Gunung Rinjani, dengan kawah berukuran 170m x 200 meter, ketinggian 2.296 – 2376 meter dari permukaan laut (mdpl) ini berada di areal Danau Segara Anak Gunung Rinjani, terakhir meletus pada 2 Mei 2009, dengan jumlah korban jiwa 31 orang karena banjir bandang akibat letusan. Sebelumnya juga pernah meletus pada 2004, namun tidak ada korban jiwa.

Dengan ritual itu, diharapkan bisa menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam agar Yang Maha Kuasa menganugerahkan kedamaian dan ketenangan pada Sang Gunung juga memberikan hujan serta kesuburan di Tanah Lombok.

Dalam dinginnya kabut Rinjani, diakhir ritual, beberapa pemuda masuk ke Segara Anak. Seolah ingin menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan terbaik mereka kepada Dewata Penguasa Segara Anak. Satu demi satu benda-benda berharga yang dipersiapkan itu tenggelam dalam rahim danau. Dan berharap keharmonisan akan kembali terjalin.

“Jika kita mempunyai keinginan yang baik dan kuat dari dalam hati, maka alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya.”.

______________________________

25 Oct 2015: Gunung Baru Jari Rinjani meletus pada hari ini sekitar pukul 10.30 wita

Rinjani Trekker
@rinjanitrekker
Gunung Baru Jari Rinjani meletus pada hari ini sekitar pukul 10.30 wita. @InfoRinjani @infolombok @infobencana pic.twitter.com/KENGhAWWSi
Media preview
11:39am · 25 Oct 2015 · Twitter Web Client

Rinjani Trekker
@rinjanitrekker
Pendakian rinjani untuk sementara ditutup sejak hari ini @infobencana @PendakiJakarta @infolombok @InfoRinjani
12:27pm · 25 Oct 2015 · Twitter for iPhone

Rinjani Trekker
@rinjanitrekker
Pendaki yang masih ada di sekitar danau segara anak hari ini rencananya akan di evakuasi melalui jalur Torean @infolombok @infobencana
12:29pm · 25 Oct 2015 · Twitter Web Client
Credibility: UP DOWN 1


Leave a Comment
Name:
Email:
Comments:
Security Code:
The Captcha library requires GD2 with FreeType support. Please see http://php.net/gd_info for more information.