Verified

PERINGATAN DINI: 8/9/2011: WASPADA; G. IBU, Kec.Ibu, Kab.Halmahera Barat, Prov. Maluku Utara.

Lokasi     : G. Ibu
Tanggal     : Sep 9 2011
Jam     : 09:13 | WIB

Detail Informasi


Bencana : Peringatan Dini: WASPADA; G. IBU Penurunan status dari SIAGA (Level III) menjadi WASPADA (Level II)
Tanggal : 8 September 2011 pukul 16.00 WIT
Posisi : 1.488, 127.63
Wilayah : Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Propinsi Maluku Utara.
Korban : Tidak Ada
Pengungsi : Tidak Ada
Kerusakan : Tidak Ada
Kebutuhan : Sosialisasi
Penanganan : PVMBG : I. PENDAHULUAN: G. Ibu merupakan salah satu gunungapi aktif bertipe strato yang berlokasi di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Propinsi Maluku Utara. Puncak G. Ibu berada pada koordinat geografi 1°29' Lintang Selatan dan 127°38' Bujur Timur. Sejak letusan Desember tahun 1998 yang menghasilkan sumbat lava, Kawah G. Ibu terisi kubah lava yang terus mengalami pertumbuhan sampai saat ini. Pada 5 Agustus 2009 pukul 16.00 WIT status kegiatan G. Ibu dinaikkan dari status Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Peningkatan aktivitas kegempaan G. Ibu ditandai dengan pemunculan sinar api stinggi lk. 20 m yang disertai suara gemuruh, serta leleran lava pada lereng bagian atas. Sejak tanggal 4 Agustus 2009 asap letusan yang teramati berwarna kelabu dengan ketinggian mencapai 300-400 meter di atas Puncak G. Ibu. Sejak dinaikkan menjadi status Siaga (Level III) sampai sekarang, secara visual masih teramati asap dengan warna putih – kelabu sedang – tebal dengan tinggi asap 200 – 400 meter dari puncak. Aktivitas kegempaan G. Ibu didominasi oleh Gempa Letusan dan Gempa Hembusan. Berikut disampaikan evaluasi kegiatan G. Ibu dalam kurun waktu Januari – Agustus 2011 berdasarkan pengamatan visual dan kegempaan. II. PENGAMATAN VISUAL: Selama bulan Januari – 8 September 2011, umumnya G. Ibu dapat diamati dengan jelas. Asap kawah teramati berwarna putih – kelabu bertekanan sedang dengan tinggi 200 – 400 meter dari bibir kawah. Pengamatan visual pada 20 Agustus 2011 dari desa terdekat menunjukkan hasil sebagai berikut : Dari Desa Goin teramati tiga titik letusan, yaitu dari titik letusan utara kawah, selatan kawah, dan timur kawah. Dalam dua jam pengamatan, teramati 8 kali letusan dari titik selatan, 5 kali letusan dari titik timur, dan 1 kali letusan dari titik utara. Tinggi asap letusan antara 100 – 250 meter di atas bibir kawah dan warna asap putih sedang sampai putih tebal. Teramati 1 kali guguran dengan jarak luncur sekitar 300 meter. Guguran ini hanya terjadi jika ada letusan dari titik utara. Teramati juga 4 kali hembusan dari titik timur dengan tinggi asap maksimum 50 meter di atas bibir kawah dengan warna asap putih tipis. Dari Desa Duono teramati 1 kali letusan timur dan selatan, serta dari Desa Borona teramati 1 kali letusan utara dan 1 kali guguran. III. PENGAMATAN KEGEMPAAN: Gempa Guguran menunjukkan kecenderungan/ trend yang relatif stabil selama Januari - 8 September 2011. Rata-rata kejadian gempa guguran adalah 45 kejadian/hari. Durasi dominan gempa guguran selama Januari – 8 September 2011 rata-rata adalah 30 detik. Gempa Letusan menunjukkan fluktuasi dan mengalami peningkatan selama Januari -Maret 2011. Sejak April - 8 September 2011 jumlah gempa letusan meningkat tetapi menunjukkan trend stabil, yaitu pada kisaran 150 - 170 kejadian/hari. Terjadi peningkatan rata-rata kejadian gempa hembusan dimana selama Januari – April 2011 rata-rata 45 kejadian/hari menjadi 60 kejadian/hari selama Mei – Juli 2011, dan kemballi menurun menjadi 46 kejadian/hari pada minggu pertama September 2011. Tremor vulkanik sering terekam dengan amplituda meningkat pada Maret – April 2011 dan menurun pada 29 Juni 2011, dengan rata-rata 1 kejadian/hari. Sejak 29 Juni hingga 8 September 2011 tidak terekam adanya kejadian tremor. Gempa Vulkanik Dalam, Vulkanik Dangkal dan Tektonik Lokal selama Januari – 8 September 2011 relatif stabil dengan rata-rata 1 kejadian/hari. Gempa Tektonik Jauh relatif stabil dengan rata-rata 3 – 5 kejadian/hari. IV. EVALUASI: Data visual menunjukkan bahwa tidak terjadi peningkatan pada tinggi asap. Hasil pengamatan pada 20 Agustus 2011 menyebutkan bahwa guguran yang terjadi relatif berskala kecil dan hanya terjadi jika letusan berasal dari titik utara. Kegempaan G. Ibu didominasi oleh Gempa Letusan, Gempa Hembusan dan Gempa Guguran. Peningkatan kegempaan, khususnya Gempa Letusan dan Gempa Hembusan, diawali dengan peningkatan amplituda dan kejadian tremor yang tanpa didahului oleh peningkatan gempa vulkanik. Pemunculan dan peningkatan tremor juga tidak disertai dengan peningkatan kegiatan visual baik berupa kenaikan tinggi asap atau pun perubahan warna asap hembusan. Data kegempaan dari Januari - Agustus 2011 menunjukkan bahwa peningkatan kejadian gempa-gempa permukaan (Gempa Letusan, Gempa Hembusan dan Gempa Guguran), yang tanpa didahului atau disertai oleh peningkatan jumlah gempa vulkanik, bukan merupakan peningkatan yang signifikan terhadap aktivitas G. Ibu. V. POTENSI BAHAYA: Aktivitas letusan G. Ibu yang tercatat sejak 31 Desember 1998, beberapa kali menghasilkan letusan cukup besar, yaitu letusan dengan tinggi kolom letusan mencapai lk. 1000 m dengan disertai suara dentuman keras. Bahaya utama erupsi sejak akhir tahun 1998 hingga saat ini hanya berupa abu vulkanik dengan sebaran meluas hingga radius 5 km dari puncak/kawah. Sebaran abu vulkanik tergantung arah angin, yang pernah terjadi adalah ke bagian timur puncak. Lontaran material pijar umumnya masih terjadi di dalam kawah (sedikitnya ada 3 buah titik erupsi yang berarah relatif utara-selatan). Khusus lontaran material dari titik erupsi bagian utara sudah melampaui bibir kawah dan membentuk guguran-guguran kecil ke arah utara-baratlaut dari bukaan kawah, dengan jarak luncur lk. 400 m. Guguran terakhir terjadi pada tahun 2010 (April dan September) dengan jarak luncur guguran yang relatif konstan (400 m). Material hasil erupsi di lereng dan lembah utara-baratlaut sekitar Sungai Bosaboso yang berhulu di sekitar Kawah (titik erupsi bagian utara) berpotensi terjadi penumpukkan. Untuk mengantisipasi terjadinya lahar bila terjadi hujan lebat di daerah puncak maka perlu dipantau intensitas guguran yang terjadi dan jumlah material yang telah terakumulasi. VI. KESIMPULAN: Berdasarkan hasil pengamatan visual dan kegempaan, maka dinilai bahwa Penurunan status G. Ibu dari SIAGA (Level III) menjadi WASPADA (Level II) terhitung sejak tanggal 8 September 2011 pukul 16.00 WIT. Pengamatan intensif perlu dilakukan terutama untuk pemantauan tinggi asap, warna serta intensitas tekanan gas dan jarak luncur guguran. Dari sisi kegempaan perlu diwaspadai kejadian gempa vulkanik (VA dan VB) dan tremor vulkanik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan meningkatkan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi terhadap aktivitas G. Ibu. Jika terjadi perubahan penurunan/peningkatan aktivitas vulkanik G. Ibu secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan/dinaikkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. VII. rEKOMONDASI: Pada status WASPADA disarankan sebagai berikut : Masyarakat di sekitar G. Ibu diharap tenang, tidak perlu ada pengungsian, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Ibu.Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Barat tentang aktivitas G. Ibu. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati G. Ibu dalam radius 2 km dari kawah aktif G. Ibu dan area Kawasan Rawan bencana III yang sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava dan gas beracun. Jika terjadi hujan abu vulkanik G. Ibu, agar masyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu vulkanik yang terhirup dapat mengganggu saluran pernafasan. Abu vulkanik juga dapat merusak lahan pertanian dan tanaman, namun dalam selang waktu 1 - 2 tahun dapat menyuburkan lahan yang baik untuk pertanian. Masyarakat yang bermukim di sekitar bukaan kawah G. Ibu (Desa Duono, Tokuoko, Goin, Togorebasung, Sangajinyeku, Toguis, Todoke, dan Borona) agar mewaspadai potensi ancaman awanpanas guguran, lahar dan material lontaran pijar yang dapat terjadi jika terjadi kenaikan aktivitas vulkanik G. Ibu.
Akses Komunikasi : Tidak Ada Data
Kontak Penting : BPBD Provinsi Maluku Utara, dan Kabupaten Halmahera Barat, PVMBG
Sumber : ICTD-AP, PVMBG
Kode Bencana : BIV/AV.8/9/2011
Credibility: UP DOWN 0


Leave a Comment
Name:
Email:
Comments:
Security Code:
The Captcha library requires GD2 with FreeType support. Please see http://php.net/gd_info for more information.

Additional Reports

Gunung Dukono Menyemburkan Debu Vulkanik 1000 M

15:56 Aug 19, 2011

Gunung Dukono,Kab. Halmahera Utara, Prov. Maluku Utara, 21.95 Kms

Halmahera Utara: Letusan G.Dukono 19 Agustus 2011

01:57 Aug 20, 2011

Gunung Dukono, 21.95 Kms

Update 20/12/2011: PENGUNGSIAN GAMALAMA: Ternate, Maluku Utara

11:22 Dec 20, 2011

Ternate:Malut, 49.84 Kms