Verified

Tulisan Sinabung: 3 Juli 2015: Kapan Sinabung Berhenti Meletus?

04:30 Jul 3 2015 Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia

Tulisan Sinabung:  3 Juli 2015: Kapan Sinabung Berhenti Meletus? Tulisan Sinabung:  3 Juli 2015: Kapan Sinabung Berhenti Meletus?
Description
Tulisan Sinabung: 3 Juli 2015: Kapan Sinabung Berhenti Meletus?

Surono Mbah Rono
Banyak pertanyaan kapan G. Sinabung akan berhenti meletus, walau saya bukan peramal, tp ini penting untuk membuat rencana penanggulangan bencana scr tuntas, maka terpaksa cari dan baca paper orang pinter "The Association of Lava Dome Growth With Major Explosive Activity (VEI>=4): Dome Haz, Global Dataset" ditulis "S.E. Ogburn, S.C. Loughin (scr pribadi saya kenal) and E.C. Calder" dari "Bull. Volcanol (2015) 77:40. Sengaja judul paper tsb saya sajikan, krn banyak yg bertanya penuh keragukan kpd saya ttg prediksi lama letusan G. Sinabung yg saya sampaikan dan dikutip media. Saya menyadari keraguan orang2, krn hal tsb disampaikan hanya oleh saya, kulit coklat dan hidung rata. Paper menyebut: untuk tipe erupsi dgn pembentukan kubah dan awan panas guguran, setipe dgn Sinabung, Probabilitas akan berhenti < 1 tahun 64%, 1-5 thn 29%, 5 - 10 thn 3%, 10-15 thn 2% lebih dr itu ~ 1%, dari conto 397 gunungapi di dunia. Untuk tipe erupsi spt Sinabung, probabilitas erupsi dgn VEI 0 - 3 adalah 90 % sedang untuk VEI ~ 4 (setara besarnya erupsi Merapi dan Kelut) hanya 10%.
Krn letusan Sinabung sdh lbh dr 1.5 thn, maka yg terdekat 1 ~ 5 thn, dgn probabilitas yg 64 + 29 = 93 % atau probabilitas erupsi G. Sinabung akan berhenti kurang dr 5 tahun adalah 93% (itu tertulis dlm presentasi dan saya bertanggung jawab). Kurang dr 5 thn artinya bisa 2, 3, 4 dan maksimum 5 thn. Saya menghitung letusan G. Sinabung mulai akhir 2013, artinya sdh berlangsung lk. 1.5 thn, jika lama erupsi 2 th (sisa 6 bulan lagi), jika 3 thn (sisa 1.5 thn lagi), dst jika 5 thn (sisa 3.5 tahun). Krn menyangkut kehidupan manusia, dari data pengamatan G. Sinabung, dr paper tsb, saya ambil risiko terburuk, lama ketusan G. Sinabung maksimum 5 th, artinya masih ada waktu 3.5 th lagi. Apakah itu tepat? Saya tdk jamin tepat, krn hasil dr contoh empiris dr kejadian erupsi 397 gunungapi di dunia dan dari data pengamatan G. Sinabung yg saya tdk ketahui 1 hingga 2 tahun kedepan. Namun itulah pegangan saya (krn saya bukan dukun peramal gunungapi meletus) agar bisa jawab pertanyaan ttg "berapa lama lagi erupsi Sinabung". Berdasarkan paper yg sama probabilitas erupsi dgn tipe spt G. Sinabung VEI 0 ~ 3 adalah 90%, sedangkan Probabilitas VEI ~ 4 (setara erupsi Merapi dan Kelut) hanya 10%. Berdasarkan dari data terkini dan paper tsb, erupsi Sinabung dgn VEI 0 ~ 3. Artinya, letusan G. Sinabung TIDAK akan membesar, namun akan berhenti dalam jangka panjang, KURANG dari 5 tahun. Bagaimana jika hal tsb diatas salah? Bagi saya, lebih baik saya salah berdasarkan scientific dari pada saya ragu dan tdk ambil keputusan sama sekali yg dpt digunakan sbg acuan tindak sektor lain dlm penanggulangan bencana erupsi Sinabung. Bila saya salah, erupsi Sinabung lbh cepat dr 5 tahun, akan lbh baik bagi semua pihak. Dari semua keputusan itu, yg lbh penting adalah penyelesaian scr menyeluruh relokasi masyarakat yg terancam bahaya erupsi Sinabung. Demikian jawaban saya, jika ada hal2 yg tdk berkenan, mohon dimaafkan, tks atas perhatiannya.
Salam hormat, Surono / Mbah Rono

Source: Dari Laman facebook MbahRono
______________________________

Article
The association of lava dome growth with major explosive activity (VEI ≥ 4): DomeHaz, a global dataset

http://www.researchgate.net/publication/270277592_The_association_of_lava_dome_growth_with_major_explosive_activity_%28VEI__4%29_DomeHaz_a_global_dataset
________________________

Tulisan Sinaabung: Jun 26, 2015: Sinabung dan Gunung Berapi yang Tumbuh di Tata Surya Kita. Muh Ma'rufin Sudibyo

Muh Ma'rufin Sudibyo: Sinabung dan Gunung Berapi yang Tumbuh di Tata Surya Kita

Gunung Sinabung kian menjadi-jadi saja. Selama 66 jam berturut-turut semenjak Selasa 23 Juni 2015 Tarikh Umum (TU) pukul 00:00 WIB tak kurang 22 awan panas dikibarkannya secara beruntun. Seluruhnya meluncur ke arah kaki sektor timur-tenggara vulkan yang lasak ini. Bersamanya dihembuskan pula debu vulkanik pekat ke udara, ciri khas letusan eksplosif semi vulkanian. Semua hempasan awan panas ini tak menelan korban, seiring telah dievakuasinya penduduk yang tinggal di desa-desa di kaki gunung sektor selatan dan tenggara pasca penetapan status Awas (Level IV) beberapa waktu lalu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI telah menetapkan kawasan terlarang bagi aktivitas manusia. Meliputi sektor selatan hingga radius mendatar 7 kilometer dari puncak, sektor tenggara (radius mendatar 5 kilometer dari puncak) dan sektor lain yang tersisa (hingga radius mendatar 3 kilometer dari puncak). Radius kawasan terlarang memang lebih besar ke sektor selatan dan tenggara, mengingat kesinilah selama ini hempasan awan panas dan lava pijar Gunung Sinabung melanda. Hal itu akibat titik tumbuhnya kubah lava berada di bukaan kawah yang mengarah ke selatan-tenggara.

Sampai saat ini jangkauan maksimum hempasan awan panas Sinabung sudah mencapai radius mendatar 4,5 kilometer dari puncak, yang terjadi pada Senin (22 Juni 2015 TU) dan Kamis (25 Juni 2015 TU) kemarin. Dengan tingkat ekstrusi magma yang tetap tinggi sementara endapan awan panas telah ‘melicinkan’ lereng gunung sektor selatan dan tenggara, maka ke depan muncul potensi kian jauhnya jangkauan hempasan awan panas Sinabung. Harus digarisbawahi bahwa volume kubah lava Sinabung hingga saat relatif tak menyusut, masih tetap bertahan di sekitar 3 juta meter kubik lava. Sebab besarnya jumlah magma yang diekstrusikan ke puncak Sinabung, yang mencapai sekitar 100.000 meter kubik per hari, diimbangi oleh gugurnya bagian-bagian kubah lava tersebut. Tiap guguran itulah yang menerbitkan awan panas.

Bahang
Hingga saat ini aktivitas Gunung Sinabung masih sangat tinggi. Ia masih akan terus membuat sebagian Indonesia berdebar karenanya. Bagi sejumlah orang, letusan Sinabung kali ini tergolong berdurasi lama karena nyaris tanpa henti semenjak 15 September 2013 TU. Meski jika menganalisis dinamika gunung-gemunung berapi Indonesia, sejatinya Gunung Sinabung bukanlah satu-satunya vulkan dengan letusan terpanjang. Masih ada Gunung Semeru (propinsi Jawa Timur), yang telah meletus tanpa henti semenjak 1967 TU dan sejak itu berstatus Waspada (Level II). Hanya saja letusan Semeru tergolong letusan bertipe strombolian yang terjadi setiap beberapa belas menit sekali. Letusan strombolian di Gunung Semeru selalu merupakan letusan kecil, menyemburkan sedikit material vulkanik dan terjadi karena saluran magmanya yang sudah terbuka tanpa penghalang berarti. Letusan yang kecil membuat Gunung Semeru tak berkesempatan untuk meluncurkan awan panasnya. Ini bertolak-belakang dengan Gunung Sinabung, dengan tipe letusan semi vulkanian-nya, sehingga kerap eksplosif sebagai imbas dari saluran magmanya yang (diduga) belum sepenuhnya terbuka.

Sebuah studi terkini (Lupi & Miller, 2014) memperlihatkan kemungkinan adanya hubungan antara aktifnya kembali Gunung Sinabung, setelah sekitar 1.200 tahun terlelap, dengan dekade teror gempa Sumatra. Lebih jelasnya, Gunung Sinabung mungkin aktif kembali sebagai imbas dari gempa akbar Simeulue-Nias 28 Maret 2005 (Mw 8,7) yang disusul gempa akbar berganda Mentawai-Enggano 12 September 2007 (Mw 7,9 dan Mw 8,4). Rentetan gempa akbar tersebut yang disusul dengan sejumlah gempa darat di berbagai titik dalam sistem patahan besar Sumatra menyebabkan tegasan (stress) yang selama ini menekan dan menyungkup dapur dapur magma Sinabung menjadi melemah. Pelemahan tersebut memungkinkan magma bermigrasi ke atas melewati retakan-retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meluap dari puncak. Inilah yang menghasilkan Letusan Sinabung 2013 semenjak hampir dua tahun silam hingga kini.

Gunung Sinabung hanyalah salah satu dari sekian banyak gunung berapi aktif di Bumi yang sedang memuntahkan magmanya saat ini. Di tata surya kita, vulkanisme tidaklah eksklusif di Bumi saja. Letusan gunung berapi yang memuntahkan berbelas kilometer kubik lava dan hampir sedahsyat Letusan Krakatau 1883 juga biasa dijumpai di Io, salah satu satelit Jupiter. Bahkan belakangan jejak letusan gunung berapi yang memuntahkan magma panas juga terdeteksi pada salah satu lembah retakan besar di Venus, benda langit tetangga terdekat dengan Bumi kita. Mengapa gunung-gemunung berapi dapat bertumbuh pada berbagai benda langit dalam tata surya kita?

Tuangkan air panas ke dalam gelas di meja. Seduhlah minuman kesukaan, baik kopi ataupun teh. Lalu tempelkan tangan anda ke gelas tersebut. Panas? Sudah pasti. Telapak tangan bahkan mungkin terasa seperti terbakar. Namun tunggulah barang 15 atau 20 menit kemudian, lalu tempelkan lagi tangan anda. Panas? Mungkin belum bisa disebut dingin, namun yang jelas tingkat kepanasannya sudah jauh berkurang. Kemana panasnya menghilang? Ilmu pengetahuan memiliki jawaban sederhananya. Bahang (kalor) dari air dalam gelas dipindahkan ke lingkungannya, baik ke meja maupun ke udara sekitar. Bahang dipindahkan baik lewat proses konduksi (antara gelas dan meja) atau konveksi (antara gelas dan udara sekitar). Saat keseimbangan telah tercapai, air dalam gelas pun mendingin.

Vulkanisme dalam tata surya pun mengikuti langkah serupa transfer bahang dari air dalam gelas. Ya, vulkanisme sejatinya hanyalah salah satu bentuk pelepasan bahang dari sebuah benda langit dalam upayanya untuk mendingin. Sumber bahang bisa berasal dari internal (inti dan/atau selubung) maupun eksternal. Bahang disalurkan ke permukaan (kerak) lewat proses konduksi dan/atau konveksi. Dari kerak, bahang selanjutnya diemisikan ke angkasa lewat proses radiasi sebagai gelombang elektromagnetik dengan rentangan spektrum tertentu.

Panas dan Dingin

Vulkanisme memproduksi magma, sebagai material yang suhunya jauh lebih tinggi dibanding suhu lingkungan di permukaan/kerak. Pergerakan magma dari lapisan yang lebih dalam hingga dimuntahkan ke paras sebuah benda langit merupakan salah satu penyaluran bahang. Berdasarkan suhu magmanya maka secara umum terdapat pada saat ini tata surya kita mengenal dua jenis vulkanisme. Yakni vulkanisme panas (hot volcanism) dan vulkanisme dingin (cryovolcanism). Vulkanisme panas menghasilkan magma bersuhu antara 800 hingga 1.200° Celcius alias sepanas batu cair. Sifat magmanya cair/encer hingga kental. Magmanya didominasi senyawa silikat dan logam alkali/alkali tanah. Ia juga disertai dengan gas-gas vulkanik seperti sulfurdioksida (gas belerang), karbondioksida dan uap air. Vulkanisme panas yang aktif pada saat ini bisa dijumpai di Bumi, Io dan Venus.

Sebaliknya vulkanisme dingin menghasilkan magma bersuhu rendah, yakni di sekitar titik beku air di Bumi (0° Celcius) atau lebih besar lagi. Sifat magmanya sangat cair dan didominasi uap air atau gas nitrogen bercampur dengan senyawa-senyawa sederhana seperti metana dan amonia. Bagi kita, sifat ini mungkin terasa aneh, karena uap air dapat dijumpai dimana-mana di Bumi kita. Namun jangan salah, vulkanisme dingin terjadi di benda langit yang suhu rata-rata parasnya demikian dingin membekukan, jauh di bawah titik beku air. Sehingga eksistensi uap air di sana sudah tergolong ‘sangat panas’ untuk ukuran setempat.

Vulkanisme dingin yang aktif saat ini dapat dijumpai di Triton (salah satu satelit alami Neptunus) dan Enceladus (salah satu satelit alami Saturnus). Vulkanisme dingin di Triton teramati (untuk pertama dan juga terakhir kalinya hingga saat ini) pada 1989 TU silam saat wahana penjelajah takberawak Voyager 2 melintas di dekat planet Neptunus. Voyager 2 mendeteksi sejumlah titik semburan mirip geyser yang memuntahkan material didominasi gas nitrogen dengan volume setara produk Letusan Kelud 2014. Sementara vulkanisme dingin Enceladus terdeteksi oleh wahana Cassini (mengorbit Saturnus sejak 2004 TU hingga kini) pada 2005 TU. Seperti halnya Voyager 2, Cassini pun mendeteksi semburan mirip geyser. Dia menyeruak dari jajaran lembah retakan di dekat kutub selatan Enceladus.

Sumber bahang bagi benda-benda langit yang menjadi arena bagi vulkanisme aktif masa kini di tata surya berbeda-beda. Bagi Bumi, Io, Venus dan Enceladus, sumbernya bersifat internal. Bahang di inti dan selubung Bumi merupakan berasal dari sisa pembentukan Bumi 4,5 milyar tahun silam (10 %) dan peluruhan radioaktif radioisotop berumur sangat panjang seperti Uranium-238, Thorium-232 dan Kalium-40 (90 %). Dua sumber itu menghasilkan daya tak kurang dari 47.000 Gigawatt. Hampir seluruhnya mewujud sebagai aliran panas permukaan (heatflow) dan hanya kurang dari 1 % yang berkontribusi dalam seluruh aktivitas tektonik dan vulkanik di Bumi. Venus pun mungkin memiliki sumber bahang yang mirip, mengingat dimensi planet tersebut hampir sama dengan Bumi kita. Hanya saja seberapa besar energi yang dihasilkan dan bagaimana proporsi antara bahang primordial sisa pembentukan Venus dengan peluruhan radioaktif masih belum diketahui.

Sebaliknya sumber bahang di Io sangat berbeda. Meski tetap bersifat internal, namun bahang di Io dibangkitkan oleh gaya tidal (gaya pasang surut gravitasi) seiring interaksinya dengan planet Jupiter dan dua satelit alamiah lainnya yakni Europa dan Ganymede. Ketiga satelit alamiah tersebut mengorbit Jupiter demikian rupa (Io pada orbit terdalam dan Ganymede di orbit terluar) sehingga terjadi resonansi orbital. Sebagai satelit alamiah yang paling dekat ke Jupiter, Io menderita efek terkuat resonansi sehingga mengalami gaya tidal paling kuat. Friksi di dalam struktur Io pun terjadi secara berkelanjutan dan memproduksi bahang cukup besar untuk menggerakkan aktivitas vulkanismenya. Pemanasan tidal di Io menghasilkan daya antara 60 hingga 160 Gigawatt. Beda lagi dengan Enceladus. Pengukuran Cassini memperlihatkan Enceladus melepaskan bahang berdaya 4,7 Gigawatt. Seperti halnya Io, Enceladus pun diyakini menderita gaya tidal oleh interaksinya dengan planet Saturnus. Namun gaya tidal tersebut diperhitungkan hanya menghasilkan seperlima dari total daya yang dilepaskan Enceladus. Sehingga terdapat sumber bahang lain yang hingga kini masih belum diketahui apa bentuknya.

Situasi yang sangat berbeda dijumpai di Triton. Sumber bahangnya bersifat eksternal, yakni dari pemanasan Matahari. Triton memang berlokasi demikian jauh dari Matahari kita, yakni sejarak 4,5 milyar kilometer, sehingga lingkungannya demikian dingin membekukan. Suhu rata-rata di parasnya hanyalah minus 236° Celcius, membuat senyawa seperti karbondioksida, metana, karbonmonoksida dan nitrogen membeku sepenuhnya. Namun kombinasi antara penyinaran Matahari dengan komposisi paras Triton memungkinkan terbentuknya vulkanisme dingin. Saat Matahari menyinari paras Triton khususnya pada deposit bekuan nitrogen yang bersifat transparan, panas Matahari terjebak dalam bekuan tersebut. Sehingga lama-kelamaan membuatnya memanas. Ini mirip dengan efek rumah kaca di Bumi kita (dan juga Venus), namun terjadi pada medium padat. Sehingga disebut sebagai ‘efek rumah kaca padat.’ Bila suhunya telah minimum 4° Celcius lebih tinggi dibanding lingkungan sekitar, gas nitrogen yang terbentuk telah bertekanan cukup besar untuk membuat retakan yang menjebol permukaan dan selanjutnya menyembur hingga setinggi 8 kilometer mirip air mancur yang bertahan hingga setahun kemudian. Dengan sumber bahang dari pemanasan Matahari, maka segenap vulkan di Triton terkonsentrasi di hemisfer selatan. Tepatnya di antara garis lintang 50° hingga 57°.

Referensi :
Lupi & Miller. 2014. Short-lived Tectonic Switch Mechanism for Long-term Pulses of Volcanic Activity after Mega-thrust Earthquakes. Solid Earth, 5 (2014), pp. 13-24.

Soderblom dkk. 1990. Triton’s Geyser-like Plumes, Discovery and Basic Characterization. Science, vol 250 (13 October 1990), pp. 410-415.

Wittiri. 2015. Asap Sinabung Terus Membumbung. Majalah Geomagz, vol. 5 no. 1 Maret 2015, hal 8-9.

Muh Ma'rufin Sudibyo @marufins: Sinabung dan Gunung Berapi yang Tumbuh di Tata Surya Kita
______________________

Tulisan Sinaabung: Jun 23, 2015 Earthquakes to blame for Mount Sinabung eruptions?

Release Date: Jun 23, 2015
Earthquakes to blame for Mount Sinabung eruptions?
Scientists think there may be a link between the new volcanic activity at Mount Sinabung in Indonesia and three recent megathrust earthquakes.

Mount Sinabung in Indonesia was >7,0).

Gempa Aceh 26 Desember 2004 (M=9,3) memicu tsunami. Mulai saat itu wilayah Sumatra sering diguncang gempa. Tiga bulan kemudian, 28 Maret 2005, Sumatra kembali diguncang gempa kuat (M=8,2) berpusat dekat Nias. Selanjutnya, pada 12 September 2007, pulau ini kembali diguncang gempa (M=7,7) berpusat dekat Mentawai.

Dua tahun kemudian, 30 September 2009, Sumatra kembali diguncang gempa (M=7,9) yang menimbulkan kerusakan rumah di Padang dan Pariaman. Gempa kuat berikutnya di Pulau Pagai, 25 Oktober 2010 (M=7,7) yang memicu tsunami. Terakhir gempa Aceh 11 April 2012 (M=8,5) berpusat di zona outerrise. Gempa ini cukup unik dan langka karena episentrumnya terletak di luar zona subduksi.

Jika aktivitas vulkanik merupakan bagian rangkaian kegiatan tektonik, dapat dikatakan aktifnya Sinabung dipengaruhi gempa tektonik. Data aktivitas seismisitas gempa tersebut kiranya cukup membuktikan keberadaan dapur magma Sinabung kini terisi magma menjadi kian labil karena terus-menerus dipukul dan ditekan gelombang gempa.

Kantong magma yang selalu tertekan menjadi penuh. Selanjutnya bergerak naik. Magma baru yang naik ke permukaan memicu lebih banyak lagi magma dari dalam bumi hingga Sinabung meletus. Melihat fakta tektonik dan kondisi seismisitas Sumatra yang kian aktif, ke depan dia akan tetap aktif. ●

_________________________


Mount Sinabung Volcano Erupts Over 200 times - Red Lightning & Infrasound
1/22/2014

Written by Billy (mr2tuff) & David (mrloferlofer)

Having laid dormant for over 400 years, Mount Sinabung began showing signs of awakening in August of 2010. After several days of rumbling, Mount Sinabung erupted on August 29th, 2010 killing two. The eruption blew ash 1.5 km (1 mile) into the atmosphere, with lava overrunning one of it’s four craters prompting the evacuation of about 30,000 residents.

Mt. Sinabung: Late 2013 to the Present
In the second week of September 2013, Mount Sinabung roared back to life. Around 4,000 people fled their homes, seeking temporary shelter. Three active weeks later, officials were compelled to evacuate around 14,000 people following a major eruption that hurled an ash cloud 7 km (4.3 miles) into the atmosphere. A 5 km (3.1 mile) evacuation zone was cleared out.

Around 6,000 villagers returned to their homes on August 31st, 2010 only to flee again a week later as more eruptions occurred. The eruption on September 3rd, 2010 turned out to be much larger than the previous weeks. This particular eruption sent ash clouds 3 km (1.9 miles) high, with earthquake tremors felt as far as 25 km (15.5 miles) away.

Another eruption on September 7th, 2010 had an even larger explosion, which was heard up to 8 km (4.9 miles) away. The ash cloud mixed-in with heavy rains and produced a centimetre thick layer of “muddy ash,” which blanketed crops, homes and buildings.

Mount Sinabung went relatively quiet after the September 7th, 2010 eruption, which allowed villagers to return to their homes in Kabanjahe and Berastagi; the two cities closest to the volcano. Only minor rumbles were reported from September 2010 to September 2013.
At least one major ash cloud had been ejected everyday leading up to November 11th, 2013. On November 11th, Mount Sinabung experienced the first of many pyroclastic flows, which were sent speeding down it’s southeast face. These pyroclastic flows were caused by the frequent collapse of the unstable lava dome that had formed on Sinabung’s peak.
The Latest Series of Eruptions from Mount Sinabung, as of January 2014:
According to National Geographic, during the week of January 4th, 2014 through January 9th, Mount Sinabung managed to erupt more than 220 times; with over 100 eruptions occurring in one day alone. By January 16th, pyroclastic flows had traveled over 4.5 km (2.8 miles) down the mountain side.

Volcanic Ash once again smothered crops and nearby villages, forcing a permanent evacuation of the surrounding population.


S0 News January 22, 2014: STARWATER...Proven -- (0:04) Good morning folks, couple quick items for you to check out. First, excellent footage of Sinabung; the disaster underway. These videos from The Telegraph are outstanding, you can even catch that rare volcanic lightning we've looked for in the past...

The Telegraph (January 21st, 2014) - "Dramatic footage captured pyroclastic flow, a fast-moving current of hot gas and rock, glowing red and rare phenomenon like volcanic lighting as Mount Sinabung in Indonesia's North Sumatra province erupted again on Sunday.

The 8,530-foot Mount Sinabung has sporadically erupted since September. More than 26,000 villagers have been evacuated since authorities raised the alert status for the volcano to the highest level since November 2013.

Mount Sinabung is among about 130 active volcanoes in Indonesia, which is prone to seismic upheaval due to its location on the Pacific Ring of Fire, an arc of volcanoes and fault lines encircling the Pacific Basin...Read More."

NASA’s Advanced Land Imager onboard the EO-1 satellite has captured images of pyroclastic flow and Mount Sinabung's ash cloud from space on January 16th, 2014. Before and after images show the extent of the volcano’s reach, as ash clouds blanketed several farms and villages off to the Northwest.

Slideshow images via sources such as CNN, National Geographic and AvaxNews' reel:

Satellite Image of Mount Sinabung before eruptions. Credit: NASA's Earth Observatory
A Natural Source of Infrasound:

LiveScience (April 13th, 2013) - "Villarrica Volcano (Chile) is also a prodigious source of infrasound," said volcanologist Jeff Johnson, at Boise State University in Idaho.

"If it was in hearing range, it would be about 160 decibels. It would blow your eardrums," he told OurAmazingPlanet.

"The infrasound is continuous. It's intense, it's spectacular, and I'm interested in understanding why a volcano produces this kind of sound," Johnson said.


Johnson and his colleagues are searching for the source of this "powerful infrasound" in order to find better ways to monitor the weather: "The researchers can extract wind speed and direction from infrasound, Johnson reported here yesterday (April 17) at the Seismological Society of America's annual meeting. Scientists can calculate that wind data by looking at the infrasound's travel speed and the local air temperature."

What is Infrasound? According to the Department of Physics & Astronomy of UW Ontario:

"Infrasound is sound which extends below the range of human hearing (from 20 Hz down to 0.001 Hz), and it emanates from many natural and man made sources.

For example, some animals, such as whales, elephants and giraffes communicate using infrasound over long distances. Avalanches, volcanoes, earthquakes, ocean waves, water falls and meteors generate infrasonic waves. Some sources of man-made infrasound are nuclear and chemical explosions, engines, machinery and airplanes (Figure 1). Infrasonic waves propagate with very little attenuation and hence are capable of propagating over great distances.

The infrasound spectrum is filled with energetic sources and distinguishing between these sources is important since their identification influences the decisions regarding the response. Figure 1 (below) illustrates the many sources of infrasonic waves...Read, See More."

So, we have video of 'rare red lightning' from The Telegraph and know that when an ash cloud explodes it can travel several kilometres up into the Atmosphere, mixing-in with heavy rains and creating an extreme weather event which decimates crops, takes it's toll on local the animal population and causes a complex clean-up situation on roads, vehicles and buildings in the affected areas.

Static Charge?

After 20 years of dormancy Mount St. Augustine erupted in mid-January of 2006. In a pair of interviews, the first in the 2007 Smithsonian.com article, 'Volcanic Lightning: As sparks flew during the eruption of Mount St. Augustine in Alaska, scientists made some new discovers' atmospheric physicist, Ronald Thomas of New Mexico Tech, along with his colleagues and other scientists revealed why they:

"...now believe that volcanoes can produce two kinds of lightning during an eruption. The first type, which has been understood for some time, occurs in the volcano's smoke plume a few minutes after the eruption ends. In this case, highly energized hot air and gases clash with the cool atmosphere, creating the sort of "organized," branched lightning found in a thunderstorm, says Thomas.

The second kind of lightning, which the authors called 'a newly identified explosive phase,' came as a surprise, says Thomas. As magma, ash and rocks spewed from Augustine carrying great electrical charge, they created continuous, chaotic sparks near the mouth of the volcano.

'There's some mechanism in there that's making it come out charged,' says Thomas, who hopes the new observations will lead to a better understanding of both kinds of volcanic lightning."

National Geographic (February 22, 2007) -- "'So we saw a lot of electrical activity during the eruption and even some small flashes going from the top of the volcano up into the cloud. That hasn't been noticed before,' Thomas said.

The new evidence suggests that the eruption produced a large amount of electric charge..."

What Would Tesla Say? "Alternate currents, especially of high frequencies, pass with astonishing freedom through even slightly rarefied gases. The upper strata of the air are rarefied. To reach a number of miles out into space requires the overcoming of difficulties of a merely mechanical nature."

Just some thought-food, enjoy!
http://www.suspicious0bserverscollective.org/the-blog/mount-sinabung-volcano-erupts-over-200-times-red-lightning-infrasound

__________________________

Awang Satyana: SINABUNG: LEBIH DEKAT

Awang Satyana

15 January at 12:13
SINABUNG: LEBIH DEKAT

Para ahli kita meributkan Gunung Padang yang belum jelas dan sampai kapan pun tak akan meletus (he2..), sementara Gunung Sinabung yang sedang mengamuk di depan mata dan mengancam nyawa lebih dari 25.000 orang luput dari perbincangan ilmiah...Para pengungsinya mengeluhkan ditelantarkan Bupati Karo, ditelantarkan Presiden SBY (talkshow TV1 pagi ini). Apakah juga para ahli geologi akan ikut menelantarkan Gunung Sinabung, dan berdebat terus soal Gunung Padang. Gunung Sinabung jelas tak berhubungan dengan Gunung Padang, tetapi saya melihat tak ada perbincangan ilmiah soal Gunung Sinabung. Sesungguhnya ahli2 kita lebih paham Gunung Padang daripada Gunung Sinabung...(?!). Gunung Sinabung nasibmu....

Baik, saya saja yang menuliskannya.

Selasa 14 Januari kemarin Gunungapi Sinabung (2460 m dpl) yang tengah ”merajuk dan meradang” kembali sejak September 2013 meluncurkan awan panasnya yang terbesar yang mengalir dengan kecepatan ratusan km per jam mencapai jarak 6 km, membubungkan abu volkanik ke angkasa setinggi 8 km. Alirana awan panas (pyroclastic flow) telah terjadi di Sinabung sejak 19 November 2013, menunjukkan guguran kubah/sumbat lava di puncaknya.

Sampai hari Senin 13 Januari 2014 kemarin jumlah pengungsi Sinabung sudah sebanyak 25.810 orang berasal dari 8040 rumah, ditampung di 38 tempat penampungan pengungsi.

Sambil berpartisipasi aktif mendoakan dan membantu dari jauh atau dekat para pengungsi bencana erupsi Sinabung, yang hari-hari ini harus dijauhi karena bisa menebar maut buat barangsiapa yang mendekatinya, mari kita kenal lebih dekat Sinabung, dalam arti berusaha memahaminya, bagaimana karakter gunungapi ini.

Sinabung sudah tidur selama 400 tahun sejak letusannya yang terakhir pada tahun 1600 (letusan terakhir tahun 1600 ini tanda tanya, tak ada bukti, mungkin lebih lama sebelum tahun 1600). Begitu lama ia tidur sampai banyak orang mengiranya sudah mati, tak seperti Gunung Sibayak di dekatnya yang masih mengeluarkan uap panas dan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga panasbumi.

SINABUNG BANGKIT DARI TIDUR PANJANGNYA

Pada 27 Agustus 2010 Sinabung meletus untuk pertama kalinya setelah tidur panjangnya atau mati suri, berupa letusan freatik, menyemburkan abu volkanik memandikan kawasan timur-tenggara gunung. Letusan ini mengagetkan banyak ahli gunungapi sebab Sinabung digolongkan gunungapi kelas B yang tak pernah meletus sekali pun sejak tahun 1600.

Lalu letusan ini rupanya hanya perkenalan setelah tidur panjang. Dini hari 29 Agustus 2010, Sinabung bangun dengan suara ledakan dan memuntahkan abu dari mulutnya setinggi 1,5-2 km.

Memang dari beberapa hari sebelumnya penduduk desa mendengar gunung ini mendengkur, gemuruh gempa volkanik sebenarnya, tanda magma tengah naik ke mulut gunung, tetapi tak ada yang mengetahuinya sebab gunung ini tak pernah diteliti atau dimonitor sebab gunung ini diklasifikasikan bukan gunungapi aktif yang mesti diawasi. Sinabung hanyalah gunungapi kelas B, bukan kelas A yang mesti dipantau terus dengan mendirikan pos-pos pengamatan di dekatnya. Kelas B adalah gunungapi yang tidak pernah meletus lagi setelah tahun 1600, sedangkan kelas A adalah gunungapi yang pernah meletus minimal satu kali setelah tahun 1600.

Dari Sinabung, yang letusan terakhirnya konon tahun 1600, kita belajar bahwa gunung-gunungapi kelas B itu bisa naik kelas ke kelas yang lebih tinggi, kelas A. Maka para volcanologist mesti mewaspadai semua gunungapi kelas B, atau mungkin juga kelas C (kelas C: tak diketahui aktivitasnya, tetapi gunungnya ada, mungkin telah mati). Sebab mereka bisa tiba-tiba bangun dan “mengamuk” seperti Sinabung (karena marah digolongkan kelas B, mestinya kelas A…). Mesti disadari bahwa pengkelasan itu bukan berdasarkan geologi gunungapi, tetapi berdasarkan statistik kejadian letusan, maka bisa tidak tepat.

Setelah bangkit kembali pada Agustus 2010, dan tidur kembali selama 2011, 2012 dan sampai September 2013, Sinabung bangun lagi pada 15 September 2013 dan sampai sekarang terus terjaga. Ratusan letusan volkanik yang menyemburkan abu volkanik tinggi ke udara telah terjadi (tipe letusan “vulcanian”). Lalu akhirnya pada 19 November 2013, terjadilah awan panas ala Merapi untuk pertama kalinya, yang menuruni lereng gunung menerjang dan mematikan apa pun yang dilewatinya.

Pagi ini ada talkshow di beberapa TV dan berita di beberapa media mengritik Presiden SBY yang tak kunjung pergi ke Tanah Karo mengunjungi ribuan pengungsi Sinabung. Ribuan pengungsi Sinabung ini seperti anak ayam kehilangan induknya. Bupati Kabupaten Karo pun katanya sudah tidak mempedulikan nasib para pengungsi ini. Berita ini lalu mengontraskannya dengan ketika Pak SBY segera berkantor di Yogyakarta saat Merapi meletus hebat tahun 2010. Mungkin Sinabung pun marah ia tak dihiraukan, maka hari kemarin ia menunjukkan “wedus gembel” ala Merapi yang terbesarnya selama ini, sepanjang 5-6 km dan membubungkan abu volkanik setinggi 8 km. “Dikiranya Merapi saja yang bisa, aku pun bisalah!”, begitu mungkin seru Sinabung.

Harus diakui, sebuah gunungapi yang telah tidur panjang selama 400 tahun, pasti akan pergi dari ingatan dan pantauan kita dan para ahlinya. Maka ketika Sinabung meletus kembali untuk pertama kalinya pada Agustus 2010, para ahli pun kaget dan gagap menafsirkannya akan apa yang bakal terjadi sesudahnya. Tidak satu pun ahli mengetahui karakter Sinabung sebab tak ada satu pun catatan bahwa gunungapi ini pernah meletus sejak tahun 1600. Maka ketika ia meletus, kita dan para ahli hanya bisa menyaksikan dan mengevakuasikan penduduk sekitarnya. Kita dan para ahli saat ini sedang belajar bagaimana karakter Sinabung bila meletus.

Memang dari geologi gunungapi, kita bisa menduga-duga bagaimana masa lalu Sinabung itu berdasarkan jenis batuannya, komposisi petrokimianya, dan lain-lain. Tetapi tetap tak ada yang bisa memprediksi bagaimana karakter Sinabung bila meletus, bahkan ia bisa meletus lagi pun pada 2010 tak ada yang menduganya. Namanya saja gunungapi kelas B.

Sebenarnya tanda-tanda bahwa Sinabung tidak mati meskipun sudah ratusan tahun tak ada aktivitas bisa dilihat di aktivitas solfatara (semburan uap dan gas belerang) yang menurut laporan dilihat terjadi di puncak dan lereng atasnya pada tahun 1912. Sebuah catatan lain bahkan menyebutkan bahwa gunung ini pernah meletus (kecil) pada 1881. Dua kejadian ini masih perlu dikonfirmasi kebenarannya.

GEOLOGI GUNUNG SINABUNG

Gunung Sinabung, berdasarkan pemetaan geologi, adalah gunungapi stratovolcano seperti banyak gunungapi lainnya di Indonesia, stratovolcano artinya berbentuk kerucut disusun oleh perlapisan antara lava dan tuf (ex abu volkanik). Penyusun utama gunung ini adalah lava dan abu volkanik andesitik – dasitik berumur Plistosen-Holosen (artinya sebelum 1,8 juta tahun yang lalu gunung ini tidak ada).

Gunung Sinabung tumbuh di dataran tinggi bernama Plato Karo, secara administratif ia juga masuk ke Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Sinabung terletak sekitar 40 km di utara baratlaut Danau Toba. Danau Toba sendiri sesungguhnya adalah sebuah kawah gunungapi purba yang meletus begitu hebatnya pada 74.000 tahun yang lalu.

Di puncak Sinabung ditemukan empat kawah yang membentuk kelurusan hampir utara-selatan, saling tumpang-tindih.Tiga kawah bagian utara sudah mati, satu kawah paling selatan masih aktif. Kelurusan kawah hampir utara-selatan dipunyai juga oleh kawah-kawah Toba yang saling tumpang-tindih, hanya umur kawah berbeda-beda, dan kawah terakhir yang membentuk Danau Toba sekarang menelan kawah-kawah tua yang lain. Boleh diduga bahwa kelurusan utara-selatan ini merupakan sesar/patahan cabang (splay fault, synthetic) yang secara regional terhubung ke Sesar Sumatra. Di gunung-gunungapi Sumatra, magma hasil peleburan mantel dan air dari kerak samudera di zona subduksi naik ke permukaan melalui celah besar Sesar Sumatra, sehingga gunung-gunungapi di Sumatra terjadi tak jauh dari Sesar Sumatra yang membelah bagian barat Sumatra dari ujung utara ke ujung selatan sepanjang sekitar 1700 km.

Banyak aliran lava purba mengalir di lereng Sinabung, tetapi tak diketahui pasti itu hasil erupsi kapan. Carbon dating yang pernah dilakukan pada satu arang mungkin ex fragmen pohon yang diterjang lava menghasilkan umur sekitar 1200 tahun yang lalu (menurut Volcano Discovery). Maka diduga bahwa Sinabung pernah meletus pada sekitar tahun 800 M. Tetapi literatur-literatur pada umumnya menyebutkan bahwa Sinabung meletus terakhir pada tahun 1600 (?, harus dikonfirmasi, tak ada bukti).

Sinabung meskipun memang tak ada catatan meletus sejak 1600, bukan gunungapi mati sebab pada tahun 1912 dilaporkan terjadi aktivitas solfatara di puncaknya. Aktivitas solfatara artinya ada semburan uap dan gas belerang panas dari retakan-retakan di permukaan tanah/batuan. Aktivitas solfatara menunjukkan gunungapi sedang tidur, bukan mati.

BAGAIMANA KE DEPAN?

Saat ini Gunung Sinabung sedang meletus hebat. Bila aktivitas kegempaan (volkanik) dan hembusan/emisi gas SO2 masih tinggi, itu menunjukkan bahwa aktivitas erupsi Sinabung belum akan berakhir sebab kegempaan dan gas SO2 itu menunjukkan ada massa magma yang tengah naik ke permukaan. Dampak lain yang berbahaya adalah hujan di tengah musim hujan ini. Hujan akan mendatangkan lahar yang memindahkan material volkanik dari atas ke bawah. Lahar adalah aliran pekat yang sangat kuat yang bisa merenggut apa pun yang dilaluinya. Jadi, lebih dari 25.000 pengungsi harus tetap berada di tempat pengungsian, dibuat cukup nyaman di sana, sebab karakter Sinabung bisa tak terduga, kita belum mengenalnya dengan baik.***
______________________________________________

The Road to Sinabung/ Jalan menuju Sinabung

January 8, 2014 by izzuedin
Jalan menuju Sinabung

Tulisan ini adalah terjemahan dari aslinya yang terletak di Volcanocafe

This writing is a translation from the original located at Volcanocafe

——

Carl – Winterwaiting
http://volcanocafe.files.wordpress.com/2014/01/sinabung-1.jpg?w=964&h=621

Lava dan materi pijar setelah sebuah aliran piroklastik. Getty Images

Kita mempunyai kecenderungan untuk percaya bahwa erupsi akan datang dengan cepat setelah sebuah intrusi terjadi. Tentu saja normalnya ini bukan yang terjadi, sesuatu yang telah dibuktikan dengan baik oleh Sinabung. Sebagaimana otoritas lokal Indonesia memulai mengeluarkan peringatan bahwa Sinabung mungkin mendekati erupsi mayor saya berpikir kita harus mengambil waktu untuk melihat apa yang telah terjadi selama beberapa tahun belakangan, dan apa “erupsi besar” yang dapat terjadi pada Sinabung

Latar Belakang

Gunung Sinabung terletak sekitar 40 kilometer dari sistem Toba, dan bahkan meskipun ia mendapat sumber magmatik dalam yang sama, ia tidak mendapat reservoir magma yang sama dengan tetangganya yang lebih besar. Lokasi pada Busur Sunda cenderung memberi magma yang lengket dengan kemampuan untuk menaikkan tekanan di dalam sistemnya, walau demikian, kebanyakan erupsi dari gunung-gunung api yang terdekat tidaklah besar. Sebelumnya Sinabung telah mengeluarkan letusan-letusan yang terutama bertipe andesit hingga dasit.

Aktivitas 1912
http://volcanocafe.files.wordpress.com/2014/01/sinabung-2.jpg?w=964&h=604

Evakuasi sedang membebani negara berpopulasi terpadat di planet ini. Getty Images

Aktivitas satu-satunya pada catatan tertulis adalah sebuah episode “ketidaktenangan” dengan gempa bumi dan aktivitas solfatara pada kawah yang sekarang aktif di tahun 1912. Ini adalah aktivitas tercatat yang pertama di gunung ini sejak letusan kecil yang dipercaya terjadi pada tahun 1600. Sangat mungkin bahwa aktivitas 1912 adalah hasil intrusi magma yang melakukan reaktivasi. Jika demikian, mungkin inilah yang menggerakkan apa yang kita lihat sekarang, dan melihat jangka waktunya itu bisa berarti bahwa ada reservoir dari magma matang yang ada pada sistem magmatiknya.

Walaupun mungkin ada intrusi-intrusi yang lebih jauh setelah 1912, tidak ada jejak yang ditinggalkan.

Letusan freatik 2010

Letusan freatik bermula pada 25 Agustus dan berlangsung hingga 28 September pada tahun yang sama. Selama itu panas yang kuat dari magma yang naik menyebabkan letusan yang dipicu uap yang melemparkan material batu tua hingga ketinggian sekitar 5 kilometer. Hanya satu episode intrusif yang dilaporkan, dan itu terjadi di antara 8 dan 18 September yang diikuti oleh episode deflasi kecil. Ini sangat mungkin bukan intrusi pertama yang terjadi setelah kejadian utamanya. Sangat mungkin bahwa setidaknya satu intrusi mayor terjadi beberapa bulan sebelum episode freatik ini.

Episode freatik 2013
http://volcanocafe.files.wordpress.com/2014/01/sinabung-3.jpg?w=964&h=613

Penduduk melarikan diri dengan cara apapun yang mereka bisa, dengan van (mobil), sepeda motor, dan kaki mereka. Getty Images

Selama 2012 aktivitas seismik di bawah gunung kembali terjadi dan terus berlangsung pada episode-episode berbeda hingga Agustus 2013. Pada 15 September sebuah letusan freatik terjadi yang menaikkan tingkat kewaspadaan kembali ke level 3 dan evakuasi penduduk pada zona evakuasi 3 kilometer (sekitar 3000 penduduk).

Setelah itu level tersebut diturunkan ke level 2 dan penduduk mulai kembali ke rumah. Selama periode ini seismisitas turun hingga 23 September ketika dua tanah longsor terjadi yang disertai oleh dua lagi letusan freatik. Sekali lagi tingkat dinaikkan ke level 3 dan penduduk di dalam zona eksklusi 3 kilometer dievakuasi.

Aktivitas freatik terus berlangsung setelah ini dengan kekuatan yang meningkat dan pada 20 Nopember zona eksklusi diperluas menjadi 5 kilometer dan evakuasi dimulai yang meningkatkan jumlah pengungsi menjadi 20.000. Pada 2 Desember kematian pertama terjadi pada gunung tersebut ketika sembilan orang tewas dalam sebuah tanah longsor di desa Gundaling 12 kilometer dari Sinabung.

Pada 10 Desember kolom abu terbesar selama fase freatik ini dikeluarkan, ia naik hingga ketinggian 11.6 kilometer di atas kawah. Episode ini mungkin membersihkan saluran magma sehingga magma mulai naik ke kawah dengan perlahan. Selama periode 6 hingga 3 Desember gempa bumi frekuensi rendah dan hibrid meningkat secara signifikan dan tremor harmonik terjadi terus-menerus sebagaimana magma mulai naik ke atas.

Pada 21 Desember seismisitas dan tremor harmonik kembali naik dengan tajam dan sebuah kubah mulai muncul di dalam kawah yang aktif dengan laju 3.5 meter kubik per detik. Ini menjadikan mulainya letusan yang sebenarnya pada 21 Desember. Sebagaimana kubah lava yang muncul tumbuh di luar batas kawah ia mulai runtuh menjadi aliran piroklastik yang mengalir kencang ke bawah gunung. Dengan berjalannya waktu aliran-aliran ini membesar.

Perkembangan Saat Ini
http://volcanocafe.files.wordpress.com/2014/01/sinabung-4.jpg?w=750&h=530

Peta Evakuasi Terkini. Ini tidak menampilkan garis skenario terburuk sejauh 15 kilometer. Gambar oleh otoritas lokal.

Pada Sabtu 4 Januari jarak dari aliran piroklastik memaksa peningkatan zona eksklusi menjadi 7 kilometer yang memberi beban lebih jauh pada otoritas lokal sebagaimana lebih banyak penduduk yang dipindahkan ke tempat pengungsian.

Sehari setelah evakuasi dimulai tingkat kewaspadaan dinaikkan ke level 4. Pada saat yang sama informasi dikeluarkan bahwa kenaikan seismisitas dan tremor harmonik mengindikasikan bahwa sebuah letusan mayor mungkin akan terjadi, kemungkinan berselang beberapa hari hingga beberapa minggu. Otoritas mengambil langkah untuk menginformasikan penduduk bahwa dua zona telah dibuat, pertama pada 10 kilometer dan zona kedua ditingkatkan hingga 15 kilometer. Zona kedua ini bisa jadi dilihat sebagai zona evakuasi terbesar yang layak di negara dengan populasi terpadat di planet ini.

Apa yang mungkin terjadi kemudian?

Beberapa orang mungkin telah melihat gunung api super Toba didekatnya dan berteriak “Ya Tuhan! Kita semua akan mati!” Ini tentu saja menggelikan. Sistem magmatik di bawah Sinabung sama sekali tidak mengandung magma yang cukup untuk sebuah erupsi super.

Di sisi lain terdapat orang yang menyatakan bahwa gunung api tersebut akan berlanjut dengan pertumbuhan kubah dan aliran piroklastik episodik. Saya melihatnya agak meragukan dengan melihat peningkatan yang lama dan tetap untuk letusan ini dan perilaku umum dari gunung api sekitarnya.

Karena sedikit sekali yang diketahui tentang gunung api ini mungkin adalah ide bagus untuk melihat gunung-gunung api di sekitarnya untuk mendapatkan ide mengenai apa yang terjadi. Hanya beberapa kilometer di sebelahnya terdapat sistem vulkanik ganda Gunung Sibayak/Gunung Pinto, dan itu mungkin memberikan petunjuk yang bagus mengenai apa yang akan terjadi.
http://volcanocafe.files.wordpress.com/2014/01/sibayak-caldera.jpg?w=1024&h=768

Interior kaldera majemuk Gunung Sibayak. Foto oleh Eddharj

Gunung Sibayak adalah kaldera majemuk selebar 1 kilometer yang terbentuk ketika sebuah letusan VEI-6 sebagaimana kubah vulkanik diledakkan keluar, kemudian terdapat episode-episode di mana ia diisi sebagian oleh Gunung Pinto, dan kemudian hancur dalam sebuah letusan eksplosif. Melihat dari letusan terakhir di abad 19, kaldera ini terakhir “dibersihkan” pada letusan VEI-3 yang besar.

Jadi, jika ini juga benar untuk Gunung Sinabung, kita mungkin mendapat letusan yang terentang antara VEI-2 hingga VEI-6 (yang lebih kecil kemungkinannya). Ingat bahwa bisa jadi ada simpanan magma berusia 100 tahun lebih yang lebih matang yang mungkin dapat dimobilisasi kembali oleh magma panas yang baru.

Jadi, tidak ada letusan kiamat sejauh mata memandang, tetapi mungkin ini adalah letusan ukuran sedang yang cukup mengganggu.

Satu kata untuk mitigasi di sini, otoritas Indonesia adalah termasuk yang paling kompeten di planet ini. Keterampilan mereka pada mitigasi sebuah gunung api yang sangat berbahaya bisa jadi tak tertandingi di planet ini. Sehari-hari mengurusi beberapa gunung api paling berbahaya di planet ini di negara dengan populasi terpadat. Biasanya mereka mendapat hasil yang menakjubkan dan mereka menyelamatkan sejumlah besar penduduk di setiap dan semua letusan.

Bagaimanapun mereka menghadapi dua masalah, yaitu gunung-gunung api, dan jumlah orang yang harus berpindah. Karenanya mereka harus memutuskan dengan tepat dan saya tidak iri dengan pekerjaan mereka, namun saya harus mengangkat topi saya kepada mereka. Pada akhirnya mereka sedang memitigasi gunung api di saat kita di dunia barat berkata “Oh lihat, sebuah gunung api!”.

CARL; redaktur volcanocafe.wordpress.com.



Tambahan Penerjemah (Translator addendum)

Otoritas: PVMBG dan Pemerintah Indonesia.
Intrusi: Naiknya magma ke dalam saluran magma.
Deflasi: Mengempisnya gunung api karena magma telah keluar.
Reservoir: Tempat simpanan magma di dalam bumi.
Letusan freatik: Letusan karena penguapan spontan dari air di gunung api akibat pemanasan oleh magma.
Aliran piroklastik: Awan panas.
VEI: Volcano Explosivity Index (Indeks Eksplosivitas Gunung Api) adalah skala kekuatan letusan gunung api, mirip dengan skala Richter untuk gempa bumi. Skala berkisar dari 0 sampai 8 dengan peningkatan kekuatan 10 kali lipat setiap kenaikan satu skala.
Indonesia disebut penulis sebagai negara terpadat di dunia karena memiliki jumlah penduduk yang besar dengan luas daratan yang relatif sempit (kepulauan).
Magma matang (evolved magma) adalah magma yang mempunyai waktu untuk terpecah (terfraksinasi) sehingga elemen-elemen lebih berat tenggelam ke dasar reservoir, ini meninggalkan kristal-kristal kaya silika yang lebih mudah mengambang untuk naik ke atas reservoir, dan magma silikis sering kali lebih eksplosif dari magma kurang matang seperti basalt. — CARL (Penulis).
I translated “evolved magma” (lit. magma terevolusi) into “magma matang” (lit. ripe magma) because I feel that it’s more fitting to the nuance of Indonesian language. — Izzuddin A.



___________________________

The Road to Sinabung
Carl - Wintersnow
Lava and incandescent material after a pyroclastic flow. Getty Images.

We often have a tendency to believe that an eruption will come quickly after seeing an intrusion take place. Of course this is normally not the case, something that Sinabung has proven quite well. As the local Indonesian authorities are starting to issue warnings that Sinabung might be getting closer to a major eruption I thought we should take time to look at what has gone on for the last few years, and what a “major eruption” might entail at Sinabung.

Background

Mount Sinabung is situated about 40 kilometers from the Toba system, and even if it feeds from the same deep magmatic source it does not share the same magmatic reservoir as its grander neighbor. The location at the Sunda Arc tends to give sticky magma with a capacity to build up pressure in the system, that withstanding, most eruptions from the nearby volcanoes are not big. Previously Sinabung has erupted mainly andesite to dacite.

1912 activity
Evacuation is straining the densest populated country on the planet. Getty Images.

Evacuation is straining the densest populated country on the planet. Getty Images.

The only activity in written record is an episode of unrest with earthquakes and solfataric activity in the currently active crater in 1912. This was the first recorded activity in the volcano since a minor eruption believed to have occurred in the year 1600. It is quite possible that the 1912 activity might have been the result of a reactivating magmatic intrusion. If so, it might have been what set into motion what we are seeing today, and given the time frame it would mean that there is a reservoir of evolved magma residing in the magmatic system.

Even though there might have been further intrusions after 1912 they left no trace after them.

2010 phreatic explosions

Phreatic detonations started on the 25th of August and continued all the way to the 28th September the same year. During that time intense heat from rising magma caused steam driven explosions that lofted old rock material up to heights of approximately 5 kilometers. Only one intrusive episode was reported, it took place between the 8th and 18th September followed by a small deflation episode. This was most likely not the first intrusion occurring since it happens after the main action. It is quite likely that at least one major intrusion happened a few months before the phreatic episode.

2013 phreatic episode
People fleeing in any way they can, both in vans, motorcycles and on their feet. Getty Images.

People fleeing in any way they can, both in vans, motorcycles and on their feet. Getty Images.

During 2012 seismic activity under the mountain resumed and continued in distinct episodes up through August 2013. On the 15th of September a phreatic explosion happened that raised the alert level back up to 3 and evacuation of people at the 3 kilometer evacuation zone (3 000 residents).

After that the level was lowered to 2 and people started to return home. During this period seismicity declined up until the 23rd of September when two landslides occurred accompanied by yet two more phreatic detonations. Once again the level was raised to 3 and the people within the 3 kilometer exclusion zone evacuated.

Phreatic activity continued after this with increasing strength and on the 20th of November the exclusion zone was extended to 5 kilometers and an evacuation was started that raised the amount of displaced people to 20 000. On the second of December the first deaths occurred on the mountain as nine people were killed in a landslide in the Gundaling village 12 kilometers from Sinabung.

On the 10th of December the largest ash column was ejected so far during the phreatic phase, it rose to an elevation of 11.6 kilometers above the crater. This episode probably cleared the vent for the magma to slowly start moving up the passage to the crater. During the period 6th to 13th of December low frequency and hybrid earthquakes increased significantly and harmonic tremor occurred continuously as magma started to move upwards.

On the 21st of December seismicity and harmonic tremor once again rose sharply and a dome started to extrude inside the active crater at a rate of 3.5 cubic meters per second. This puts the start of the real eruption to the 21st of December. As the extruded lava dome grew beyond the confines of the crater it started to crumble into pyroclastic flows that rushed down the mountain. Over time they grew in size.

Current development
Current evacuation map. This is not showing the extended worst case scenario 15 kilometer line. Image by local authirites.

Current evacuation map. This is not showing the extended worst case scenario 15 kilometer line. Image by local authirites.

On Saturday the 4th of January the distance of the pyroclastic flows forced an increase of the exclusion zone to 7 kilometers putting further strain on the authorities as more people get dislocated into shelters.

The day after the evacuations started the alert level was raised to 4. At the same time information was released that increases in seismicity and harmonic tremor indicated that a major eruption might be on the way, possibly within days to weeks. The authorities took steps to inform people of two new zones being created, one at 10 kilometers and a second zone extending all the way out to 15 kilometers. The latter might be seen as the largest feasible evacuation zone in the densest populated country on the planet.

What might the future hold?

Some people have seen the nearby Toba supervolcano and gone “My God! We are all gonna die!” This is of course ludicrous. The magmatic system under Sinabung does not in any way contain enough magma for a supereruption.

On the other scale are people who state that the volcano would continue with dome growth and episodic pyroclastic flows. I found that a bit dubious in regards of the long and steady build up for this eruption and the general behavior of nearby volcanoes.

Since so little is known about this volcano it is probably a good idea to look at the surrounding volcanoes to get an idea of what might be in store. Just a few kilometers away is the double volcano system of Mount Sibayak/Mount Pinto, and that might give a good clue at what might be in store.
The interier of the compound caldera of Mount Sibayak. Photograph by Eddharj.

The interier of the compound caldera of Mount Sibayak. Photograph by Eddharj.

Mount Sibayak is a 1 kilometer wide compound caldera that formed during a VEI-6 eruption as a volcanic dome was blasted away, it has afterwards had episodes where it was partially filled up by Mount Pinto, and then cleared out in an explosive eruption. Judging from the latest 19th century eruption it last cleared out in a large VEI-3 eruption.

So, if this hold true also for Mount Sinabung we could be in for an eruption spanning from a VEI-2 all the way up to a much less likely VEI-6. One should though remember that there might be a repository of 100 year old more evolved magma that might get remobilized by new hot magma.

So, no end of the world eruption within sight, but possibly a bothersome enough medium sized eruption.

A word on mitigation here, the Indonesian authorities are among the most competent on the planet. Their skill at mitigation of highly dangerous volcanoes is quite possibly unequaled on the planet. On a day to day basis the juggle around some of the most dangerous volcanoes on the planet in the most densely populated country. Normally they achieve stunning results and they save large amounts of people during each and every eruption.

They are though facing two problems, both the volcanoes, and the amount of people needed to move. As such they have to cut the corners mightily fine and I do not envy their job, but I take off my hat in their direction. In the end they where mitigating volcanoes around the time we in the western world said “Oh look, a fire-mountain!”

Geology identification request
Photograph Johan Lindborg.

Photograph Johan Lindborg.

Reader Johan Lindborg went to the Ignaberg limestone quarry in Skåne, Sweden with his son to hunt for fossils. While being there he found a piece of stone that looked out of sorts, and now he has requested help with identifying it.

So, put on your thinking caps and help Johan and his son out with the mystery rock.

CARL

________________________________________

Sejarah Letusan dan Pengamatan Gunung Api Sinabung

Sejarah Letusan dan Pengamatan Gunung Api Sinabung
Gunung Api Sinabung yang terletak di tanah Karo Sumatra Utara, semalam pukul 02:51 tanggal 15 September 2013 kembali menunjukkan “keperkasaannya”. Banyak warga mengungsi untuk menghindari dampak negatif dari letusan gunung tersebut. Saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi telah menaikkan status gunung api Sinabung menjadi Siaga atau level III dimana sebelumnya berstatus waspada atau level II. Untuk mengenal status gunung api, pembaca bisa membaca tulisan saya tentang mengenal status gunung api.
Sejarah Letusan Sinabung

Gunung api Sinabung yang terletak di Sumatra Utara tersebut, pada awalnya merupakan gunung api Tipe B dimana setelah tahun 1600 tidak pernah menunjukkan aktifitas letusan. Karena awalnya dikategorikan gunung api tipe B maka pemerintah kita tidak melakukan pengamatan terhadap gunung api tersebut. Letusan Gunung api Sinabung tahun 2010 membuka mata kita semua bahwa gunung api Tipe B juga bisa menimbulkan letusan yang luar biasa.

Sejak 2010 tersebut, gunung Sinabung tercatat pernah meletus pada tanggal 27 Agustus 2010 pada pukul 18:30 wib, kemudian diikuti tanggal 29 Agustus pukul 0:10 wib, 30 Agustus pukul 06:23 wib, 03 September pukul 04:38 wib dan 17:59 wib, dan 07 September pukul 0:23 wib terjadi letusan terbesar. Setelah kejadian beberapa letusan tahun 2010 tersebut, Gunung api Sinabung yang merupakan gunung api jenis Strata tersebut oleh Pemerinta kita dijadikan Gunung Api Tipe A yang harus mendapatkan perhatian khusus berupa pembuatan pos pengamatan.
Pengamatan Gunung Api Sinabung

Pos pengamatan gunung api sinabung terletak di Jl. Tiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo (sekitar 8,5 Km dari puncak). Untuk mengamati gempa vulkanik, di atas gunung api Sinabung telah dipasang sensor seismometer sebanyak 4 unit dan hasil rekaman dikirim ke pos pengamatan. Selain sensos seismometer, di gunung api Sinabung juga telah terpasang GPS Geodetik untuk mengamati deformasi gunung api. GPS geodetik tersebut terpasang secara kontinyu dan datanya terus terkirim melalui gelombang radio ke Pos pengamatan.

Untuk memahami metode-metode yang digunakan dalam mengamati gunung api, pembaca bisa membaca tulisan saya tentang Metode Pengamatan Gunung Api.

Hasil pengamatan gunung api Sinabung terkini yang saya kutip dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi (tanggal 15 September 2013) dinyatakan bahwa:
kegempaan

Secara umum aktivitas kegempaan G. Sinabung dalam perioda tahun 2012-2013 cenderung mengalami beberapa kali fluktuasi. Sejak tanggal Juli-September 2013 aktivitas kegempaan G. Sinabung menunjukkan ada fluktuasi lagi.

Tanggal 1-31Agustus 2013. 489 kali kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 24 kali kejadian Gempa Hembusan, 47 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 60 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 1-14 September 2013. 255 kali kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 16 kali kejadian Gempa Hembusan, 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 24 kali kejadian Gempa Tektonik Jauh (TJ).

15 September 2103. Tremor pukul 03.10 WIB sampai saat ini, dengan amplituda maksimum 3-15 mm.

VISUAL

Tanggal 1-14 September 2013. Cuaca cerah-mendung, angin tenang-sedang dari arah barat, suhu 17-25oC, gunungapi jelas-tertutup kabut, asap putih tebal dengan tinggi asap 100-150 meter. Pukul 02.55 WIB teramati api diam di sekitar puncak.

CCTV Gunung Api Sinabung.

Selain Pos Pengamatan Gunung Api, pemerintah kita melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi juga memasang CCTV untuk mengamati gunung api secara visual. CCTV gunung api tersebut dapat dilihat langsung dan di bawah ini penampakan CCTV Gunung Api Sinabung.
cctv sinabung

CCTV Gunung Api Sinabung – Sumatra Utara

Semoga saudara kita di Tanah Karo diberikan kekuatan dan ketabahan dan pengalaman dalam menghadapi gunung api.

Read more: http://www.ibnurusydy.com/sejarah-letusan-dan-pengamatan-gunung-api-sinabung/#ixzz2kbRtqKXS
Credibility: UP DOWN 0

Leave a Comment
Name:
Email:
Comments:
Security Code:
13 + 9 =

Additional Reports

27/11/14; Surat Dari Sinabung / A Letter From Sinabung (Short Documentary)

20:15 Nov 27, 2014

Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia, 0 Kms

Bahaya Debu Vulkanik Gunung Berapi

08:16 Nov 20, 2013

Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia, 0 Kms

Situation Report Sinabung; Update 30/10/14: 4 arahan Presiden Jokowi untuk mempercepat penanganan relokasi warga 3 desa

13:28 Oct 30, 2014

Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia, 0 Kms

Catatan letusan Gunung Sinabung sejak 2010 By adesolografi on 8 Oktober 2014

21:32 Oct 08, 2014

Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia, 0 Kms

PVMBG: Evaluasi Status Kegiatan Awas (level Iv) G. Sinabung Tanggal 24 – 31 Januari 2014 02 February 2014

22:25 Feb 03, 2014

Sinabung, Gunung Leuser National Park, Kuta Gugung, Naman Teran, Karo 22153, Indonesia, 0 Kms