Verified

PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015

19:56 Jun 30 2015 Kabanjahe, Kabanjahe, Karo, North Sumatra, Indonesia

PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015 PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015 10 June 2015
Description
PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 22 – 29 Juni 2015
30 June 2015

I. Pendahuluan

1. Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif berada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis ada pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

2. Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013 dan meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013. Sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas G. Sinabung diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga). Aktivitas G. Sinabung meningkat kembali secara visual dan instrumen sehingga terhitung tanggal 2 Juni 2015 Pukul 23:00 WIB dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

II. Hasil Pengamatan
2.1 Visual
Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang berada di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak 22 Juni 2015 adalah sebagai berikut:

1. Tanggal 22 Juni 2015 teramati cuaca cerah, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah Timur, suhu udara 17 – 26° C. Gunungapi tampak jelas. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 50 – 200 meter di atas puncak. Terjadi 3 kali Awan Panas Guguran dari puncak dengan jarak luncur sejauh 2500 meter ke selatan tenggara, tinggi kolom abu 200 – 2000 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 1500 meter ke arah selatan dan 1000 – 1500 meter ke arah tenggara.

2. Tanggal 23 Juni 2015 teramati cuaca cerah, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah Timur dan Tenggara, suhu udara 17 – 26° C. Gunungapi tampak jelas. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 50 hingga 100 meter di atas puncak. Teramati api diam di puncak G. Sinabung. Terjadi 4 kali Awan Panas Guguran dari puncak dengan jarak luncur sejauh 1200 – 3500 meter ke Timur Tenggara, tinggi kolom abu 200 – 2500 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 1000 – 2000 meter ke arah selatan dan 500 – 1000 meter ke arah tenggara.

3. Tanggal 24 Juni 2015 teramati cuaca berawan, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah Timur, suhu udara 17 – 25° C. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 50 – 100 meter di atas puncak. Teramati api diam di puncak G. Sinabung. Terjadi 12 kali Awan Panas Guguran dari puncak dengan jarak luncur sejauh 1500 – 3000 meter ke Timur Tenggara, tinggi kolom abu 300 – 3000 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 1000 – 2500 meter ke arah selatan dan 700 – 2000 meter ke arah tenggara.

4. Tanggal 25 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah Timur – Tenggara, suhu udara 18 – 25° C. Gunungapi tampak jelas. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 50 – 300 di atas puncak. Terjadi 9 kali Awan Panas Guguran dari puncak dengan jarak luncur sejauh 2500 – 4000 meter ke Timur Tenggara, tinggi kolom abu 1000 – 5000 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 2000 meter ke arah selatan dan 500 – 2500 meter ke arah tenggara.

5. Tanggal 26 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah Timur Tenggara, suhu udara 17 – 25° C. Gunungapi tampak jelas. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 100 – 500 meter di atas puncak. Terjadi 8 kali awan panas guguran sejauh 2000 – 3500 meter ke arah Timur Tenggara dengan tinggi kolom abu 200 – 2500 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 700 – 2000 meter ke arah Selatan dan 500 meter ke arah Timur Tenggara.

6. Tanggal 27 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah Timur, suhu udara 17 – 25° C. Gunungapi tampak jelas. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 50 – 500 meter di atas puncak. Terjadi 1 (satu) kali awan panas guguran, visual tertutup kabut. Terjadi 4 kali awan panas guguran sejauh 3000 – 3500 meter ke arah Timur Tenggara dengan tinggi kolom abu 1500 – 3500 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 1000 meter ke arah Selatan dan 700 – 3000 meter ke arah Timur Tenggara.

7. Tanggal 28 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga berawan (pukul 14.48-18.00 WIB dan pukul 18.00 – 20.15 WIB), angin bertiup tenang hingga kencang ke arah timur-tenggara, suhu udara 10 – 25° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 100 - 300 meter di atas puncak. Terjadi 6 kali awan panas guguran sejauh 2000 – 3500 meter ke tenggara timur. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 700 - 1500 meter ke arah selatan dan 500 – 1500 meter ke arah timur tenggara.

8. Tanggal 29 Juni 2015 (hingga pukul 06:00 WIB) teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah barat – baratdaya, suhu udara 16-19°C. Gunungapi tampak jelas, asap putih tebal dengan tinggi 100 meter di atas puncak. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 2000 meter ke arah timurtenggara dan 1000 – 2000 meter ke arah tenggara.

2.2 Instrumental
1. Kegempaan harian:

1. Tanggal 22 Juni 2015 terekam 218 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 120 mm dan lama gempa 7 - 576 detik. 75 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 90 mm dan lama gempa 4 - 53 detik. 3 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 8 - 35 mm dan lama gempa 6 - 18 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 7 mm, lama gempa 6 detik, dan S - P 1,1 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 12 mm dan lama gempa 7 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 12 mm dan lama gempa 105 detik, S-P 32 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

2. Tanggal 23 Juni 2015 terekam 199 kali Gempa Guguran dengan amplituda 5 - 117 mm dan lama gempa 35 - 323 detik. 55 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 100 mm dan lama gempa 5 - 40 detik. 18 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 94 mm dan lama gempa 9 - 30 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 22 – 42 mm, lama gempa 11 - 23 detik, dan S - P 1,0 – 1,1 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

3. Tanggal 24 Juni 2015 terekam 175 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 120 mm dan lama gempa 6 - 534 detik. 37 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 28 mm dan lama gempa 6 - 25 detik. 11 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 48 mm dan lama gempa 10 - 33 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

4. Tanggal 25 Juni 2015 terekam 188 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 120 mm dan lama gempa 8 - 468 detik. 34 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 50 mm dan lama gempa 6 - 15 detik. 17 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 8 - 62 mm dan lama gempa 7 - 28 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 14 - 62 mm, lama gempa 8 - 20 detik dan S - P 1,0 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

5. Tanggal 26 Juni 2015 terekam 170 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 120 mm dan lama gempa 16 - 313 detik. 29 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 44 mm dan lama gempa 5 - 15 detik. 16 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 4 - 107 mm dan lama gempa 7 - 40 detik. 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 6 – 120 mm, lama gempa 6 - 38 detik dan S - P 0,5 – 2,4 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

6. Tanggal 27 Juni 2015 terekam 123 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 120 mm dan lama gempa 17 - 322 detik. 34 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 15 mm dan lama gempa 3 - 15 detik. 10 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 5 - 100 mm dan lama gempa 15 - 82 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 8 mm, lama gempa 80 detik dan S – P 26 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 – 3 mm (dominan 0,5 mm).

7. Tanggal 28 Juni 2015 terekam 80 kali Gempa Guguran dengan amplituda 6 - 120 mm dan lama gempa 21 - 369 detik. 13 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 10 mm dan lama gempa 4 - 35 detik. 14 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 7 – 106 mm dan lama gempa 11 - 58 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 4 mm, lama gempa 182 detik dan S – P 28 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

8. Tanggal 29 Juni 2015 (hingga pukul 06:00 WIB): terekam 41 kali gempa Guguran dengan amplituda 5-115 mm dan lama gempa 25-245 detik. 1 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 11 mm dan lama gempa 8 detik. 18 kali gempa Hybrid dengan amplituda 30-89 mm dan lama gempa 14-23 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 88 mm, lama gempa 16 detik, S-P 2 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5-3 mm (dominan 0,5 mm).

Pada periode 22 Juni – 29 Juni 2015 pagi, gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Hybrid, Low Frequency (LF), Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB), Tektonik Lokal (TL), Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor. Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava terekam rata-rata 150 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma terekam rata-rata 1 - 2 kejadian/hari. Gempa Low Frequency (LF) yang mengindikasikan adanya aliran fluida terekam rata-rata 35 kejadian/hari dan Gempa Hybrid yang mengindikasikan pembentukan kubah lava terekam rata-rata 13 kejadian/hari. Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 0,5-3 mm (rata-rata dominan 0,5 mm) (Lampiran 1).

RSAM (Real-time Seismic Amplituda Measurement) energi getaran gempa-gempa pada periode 1 Januari 2015 hingga 10 Juni 2015 menunjukkan fluktuasi energi. Sejak 05 Mei 2015 hingga 29 Juni 2015 nilai RSAM mengalami peningkatan (Lampiran 2).

2. Pengukuran deformasi - EDM
Pengukuran deformasi - EDM dilakukan di Desa Sukanalu dari titik ukur SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m), terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan reflektor SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung. Namun pengukuran dihentikan sejak tanggal 13 Juni 2015 karena kondisi lapangan yang berbahaya (Lampiran 3). Titik benchmark baru sedang disiapkan di Desa Sigarang-garang dan akan dioperasikan mulai tanggal 1 Juli 2015.

3. Pengukuran deformasi - tiltmeter
Pengukuran deformasi - tiltmeter secara kontinyu dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung). Grafik hasil pengukuran ungkitan dengan tiltmeter selama kurun waktu dari 1 Januari hingga 29 Juni 2015 pukul 07:59 WIB dapat dilihat pada Lampiran 4.

Hasil pengukuran tiltmeter di Stasiun Sukanalu, pada periode 22 Juni hingga 29 Juni 2015, komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan pola menurun sedangkan komponen sumbu Y (radial) naik/inflasi cukup signifikan.


4. Pengukuran fluks SO2
Fluks SO2 diukur menggunakan DOAS pada jarak antara 4-6 km dari puncak. Sedangkan suhu air panas Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT) diukur secara kontinyu sejak awal September 2013. Grafik hasil pengukuran fluks SO2 dan suhu air panas selama kurun waktu dari 1 Januari 2015 hingga 9 Juni 2015 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Pada periode 1 Januari 2015 - 9 Juni 2015, fluks SO2 berfluktuasi antara 56 ton/hari hingga 1606 ton/hari. Setelah 9 Juni 2015 pengukuran flux SO2 dengan Mini DOAS tidak dapat dilakukan karena daerah puncak gunung api tertutup oleh abu vulkanik.

Periode 1 januari 2015 - 29 Juni 2015 suhu mata air panas Payung masih berfluktuasi namun tidak terjadi perubahan yang signifikan, yaitu antara 53 – 54°C dan kandungan CO2 berfluktuasi antara 23 – 42%.


III. Evaluasi
1. Secara visual aktivitas yang dominan berupa hembusan asap dan penumpukan kubah lava di puncak yang sering diikuti oleh guguran dari puncak lava serta kadang-kadang awan panas guguran.

2. Pada periode ini jumlah Gempa Guguran meningkat bila dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Meningkatnya jumlah Gempa Guguran ini juga diiringi oleh peningkatan trend RSAM yang menunjukkan peningkatan energi yang terkandung dalam gempa. Jumlah harian gempa-gempa vulkanik (terutama Gempa Vulkanik Dalam atau VA), Hybrid dan Low Frequency (LF) jumlah hariannya masih berfluktuasi, menandakan masih berlangsungnya tekanan atau suplai magma baru.

3. Pengukuran deformasi dengan EDM di stasiun Sukanalu pada perioda 22 - 29 Juni 2015 menunjukkan pola inflasi.

4. Fluks SO2 sejak tanggal 9 Juni 2015 tidak dapat diukur karena daerah puncak gunung api tertutup oleh abu vulkanik. Suhu dan komposisi kimia air panas (CO2) tidak menunjukkan perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.

IV. Potensi Bahaya
*.Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi, namun ancamannya terbatas pada radius lk. 3 km.

*.Ancaman hujan abu lebat dapat mencapai > 3 km dan tergantung arah dan kuatnya angin.

*.Awanpanas guguran dan guguran lava yang berasal dari kubah lava serta aliran lava berpotensi mengancam sektor selatan-tenggara sejauh 7 km dan sektor tenggara-timur sejauh 6 km.

*.Aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih berlangsung.

Longsor dan banjir berpotensi terjadi di sekitar lembah dan aliran sungai di lereng bagian utara akibat pelapukan yang memperlemah kestabilan lereng.

*.Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung karena hujan yang masih terjadi.

*.Kawasan Rawan Bencana letusan G. Sinabung selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.

V. Kesimpulan
1. Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung maka tingkat aktivitas G. Sinabung hingga tanggal 29 Juni 2015 pukul 06.00 WIB masih tetap Level IV (Awas).

2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi aktivitas G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

3. Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya.

VI. Rekomendasi
Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas Level IV (Awas), maka kami rekomendasikan:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak.

2. Masyarakat dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara G. Sinabung, yang berada di bukaan lembah yang berpotensi terlanda awanpanas yaitu yang tinggal di: Pasarpinter Gurukinayan - Simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, Jembatan Lau Benuken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pejumaan Tigabogor, Desa Pintumbesi, dan Desa Jeraya agar dievakuasi ke lokasi yang aman dan tidak melakukan aktivitas di sektor tersebut.

3. Masyarakat di dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur G. Sinabung yang berada di bukaan lembah yang berpotensi terlanda aliran awan panas yaitu yang tinggal di Desa Kutatengah agar dievakuasi ke lokasi yang aman.

4. Masyarakat yang berada di luar sektor selatan – tenggara dan tenggara – timur tetapi berada di dalam KRB III berpotensi terkena hujan abu lebat dan lontaran material vulkanik, yaitu yang berada di desa Sukanalu, Sigarang-garang, Kutarakyat, Kutagugung, Lau Kawar dan Mardinding, agar dievakuasi ke lokasi yang aman.

5. Masyarakat yang tinggal di dalam radius 3 km, yaitu Desa Sukameriah di Kecamatan Payung serta Desa Bekerah dan Desa Simacem di Kecamatan Naman Teran, agar direlokasi.

6. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung, yaitu: 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Desa Gurukinayan); Kecamatan Naman Teran (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu, Dusun Sibintun dan Desa Gamber), agar direlokasi.

7. Masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.

8. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

9. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

10. Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

11. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Sinabung.

12. Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung (Telp. 0628-91575) di Gg. Kayu Bakar, Jl. Kiras Bangun, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.


___________________________

PVMBG: Evaluasi Tingkat Aktivitas Level Iv (awas) G. Sinabung Tanggal 2 – 10 Juni 2015
10 June 2015

I. PENDAHULUAN

1. Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif berada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis ada pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

2. Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013 dan meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013. Sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas G. Sinabung diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga). Aktivitas G. Sinabung meningkat kembali secara visual dan instrumen sehingga terhitung tanggal 2 Juni 2015 Pukul 23:00 WIB dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).


II. HASIL PENGAMATAN
2.1. Visual

Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang berada di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak 02 Juni 2015 adalah sebagai berikut :

1. Tanggal 02 Juni 2015 teramati cuaca mendung hingga hujan gerimis (pukul 13:13-16:10 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah Barat-Baratdaya, suhu udara 15 – 25° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis berwarna putih dengan tinggi 100 meter di atas puncak. Terjadi 3 kali Awan Panas Guguran dengan visual tertutup kabut. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 1000 meter ke tenggara.

2. Tanggal 03 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis (pukul 14.30-15.05 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat dan barat-baratdaya, suhu udara 17 – 28° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 100 hingga 1000 meter di atas puncak. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 1000 meter ke arah tenggara.

3. Tanggal 04 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis (pukul 18.19 – 20.30 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat-baratlaut, suhu udara 17 – 29° C. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 100-1000 meter di atas puncak. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 400-2000 meter ke arah selatan dan 700 – 1500 meter ke tenggara.

4. Tanggal 05 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat, baratlaut, dan baratdaya, suhu udara 16 – 29° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 300 di atas puncak. Terjadi 1 kali Awan Panas Guguran dari puncak dengan jarak luncur sejauh 1500 meter ke selatan, tinggi kolom abu 1000 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 1500 meter ke arah selatan dan 500 - 1500 meter ke arah tenggara.

5. Tanggal 06 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis-deras (Pukul16:20 - 17:42 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat-baratdaya, suhu udara 17 – 26° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 300 - 500 meter di atas puncak. Terjadi 3 kali awan panas guguran sejauh 1000 – 1300 meter ke arah tenggara dengan tinggi kolom abu 300 – 700 meter. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 – 1300 meter ke arah selatan dan 500 - 1500 meter ke arah tenggara.

6. Tanggal 07 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis-deras (pukul 14.37 – 16.35 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat-baratlaut, suhu udara 17 – 27° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 400-500 meter di atas puncak. Terjadi 1 (satu) kali awan panas guguran, visual tertutup kabut. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 - 2000 meter ke arah selatan dan 300 – 1000 meter ke arah tenggara.

7. Tanggal 08 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis-deras (pukul 14.48-18.00 WIB dan pukul 18.00 – 20.15 WIB), angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah timur, suhu udara 15 – 27° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 500 - 1000 meter di atas puncak. Terjadi 2 kali awan panas guguran sejauh 1000 – 1500 meter ke arah selatan. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 500 - 2000 meter ke arah selatan dan 500 – 1000 meter ke arah tenggara.

8. Tanggal 9 Juni 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah barat – baratdaya, suhu udara 18-25°C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 300 – 1000 meter di atas puncak. Terjadi 1 kali erupsi tinggi abu 700 meter, 1 kali awan panas, visual tertutup kabut. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 700 – 1000 meter ke arah selatan dan 300 – 1000 meter ke arah tenggara.

9. Tanggal 10 Juni 2015 (hingga pukul 08.00 WIB) Cuaca mendung hingga berawan, angin tenang, suhu udara 16-18°C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 500 meter. Terjadi 2 kali awan panas guguran sejauh 1000 – 2500 meter ke arah tenggara dan selatan, dengan tinggi kolom abu 500 – 700 meter. Teramati 2 kali guguran lava dari puncak sejauh 1500 meter ke arah selatan dan 1000 meter ke arah tenggara. Pada periode 2 Juni 2015 hingga 10 Juni 2015 pagi, gunungapi umumnya tampak jelas hingga tertutup kabut. Pada saat tampak jelas, teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 100 hingga 1000 m di atas puncak. Awan panas guguran terjadi dengan jarak luncur mencapai 2500 meter ke arah selatan dengan kolom abu 700-1000 meter dari puncak, dan 1000 – 1300 meter ke arah tenggara dengan kolom abu 300 – 700 meter dari puncak. Guguran lava dari puncak teramati sejauh 400 – 2000 meter ke arah selatan dan 500 – 1500 meter ke arah tenggara.

2.2. Instrumental

1. Kegempaan harian :

1. Tanggal 02 Juni 2015 terekam 145 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 110 mm dan lama gempa 25 - 250 detik. 22 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 13 mm dan lama gempa 5 - 35 detik. 11 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 5 - 49 mm dan lama gempa 6 - 30 detik. 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 5 – 13 mm, lama gempa 7 - 15 detik, dan S - P 1,2 – 2,5 detik. 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 8 - 24 mm dan lama gempa 105 - 132 detik, S-P 27 - 29 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 9 mm (dominan 0,5 mm).

2.Tanggal 03 Juni 2015 terekam 134 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 89 mm dan lama gempa 16 - 185 detik. 24 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 20 mm dan lama gempa 6 - 20 detik. 9 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 4 - 105 mm dan lama gempa 8 - 35 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 18 – 20 mm, lama gempa 10 - 11 detik, dan S - P 1,8 – 2,1 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

3. Tanggal 04 Juni 2015 terekam 168 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 95 mm dan lama gempa 20 - 275 detik. 28 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 10 mm dan lama gempa 6 - 27 detik. 6 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 3 - 16 mm dan lama gempa 10 - 20 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

4. Tanggal 05 Juni 2015 terekam 201 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 93 mm dan lama gempa 27 - 350 detik. 54 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 15 mm dan lama gempa 6 - 16 detik. 7 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 3 - 25 mm dan lama gempa 7 - 15 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 19 mm, lama gempa 12 detik dan S - P 1,75 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 6 mm, lama gempa 215 detik dan S – P tidak terbaca. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

5. Tanggal 06 Juni 2015 terekam 201 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 110 mm dan lama gempa 20 - 322 detik. 61 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 93 mm dan lama gempa 5 - 42 detik. 2 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 14 - 26 mm dan lama gempa 10 - 13 detik. 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 22 – 115 mm, lama gempa 7 - 72 detik dan S - P 1 – 1,7 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 15 mm, lama gempa 110 detik dan S – P tidak terbaca. Terekam 3 kali Awan Panas Guguran dengan amplituda 98 – 107 mm, lama gempa 157 – 205 detik. Terekam getaran laharan dengan amplituda 5-12 (dominan 10 mm), lama getaran 24 menit. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

6. Tanggal 07 Juni 2015 terekam 180 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 105 mm dan lama gempa 25 - 350 detik. 49 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 31 mm dan lama gempa 5 - 19 detik. 4 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 7 - 28 mm dan lama gempa 7 - 15 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 14 mm, lama gempa 13 detik dan S - P 1,5 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 18 mm, lama gempa 36 detik dan S – P 15 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

7. Tanggal 08 Juni 2015 terekam 171 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 111 mm dan lama gempa 21 - 363 detik. 35 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 40 mm dan lama gempa 5 - 35 detik. 9 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 11 mm dan lama gempa 7 - 18 detik. 1 kali Gempa Hembusan dengan amplituda 50 mm dan lama gempa 198 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 9 mm, lama gempa 78 detik dan S – P 28 detik. Terekam 2 kali Awan Panas Guguran dengan amplituda 84 – 98 mm, lama gempa 120 – 145 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm (dominan 0,5 mm).

8. Tanggal 09 Juni 2015 terekam 223 kali gempa Guguran dengan amplituda 4-110 mm dan lama gempa 27-527 detik. 32 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2-16 mm dan lama gempa 6-22 detik. 1 (satu) kali gempa Hybrid dengan amplituda 14 mm dan lama gempa 10 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 4 mm dan lama gempa 6 detik, S-P 1 detik. Satu kali erupsi dengan amplituda 30 mm dan lama gempa 140 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm).

9. Tanggal 10 Juni 2015 (hingga pukul 06.00 WIB) terekam 59 kali gempa Guguran dengan amplituda 4-97 mm dan lama gempa 20-796 detik. 12 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3-10 mm dan lama gempa 5-11 detik. 2 kali gempa Hybrid dengan amplituda 15-47 mm dan lama gempa 20-25 detik.Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm).

Pada periode 2 Juni – 9 Juni 2015 siang, gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Hybrid, Low Frequency (LF), Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB) Tektonik Lokal (TL), Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor. Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava terekam rata-rata 164 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma terekam rata-rata 1 - 2 kejadian/hari. Gempa Low Frequency (LF) yang mengindikasikan adanya aliran fluida terekam rata-rata 35 kejadian/hari dan Gempa Hybrid yang mengindikasikan pembentukan kubah lava terekam rata-rata 5 kejadian/hari. Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 0,5-9 mm (rata-rata dominan 0,5 mm) (Lampiran 1).

RSAM (Real-time Seismic Amplituda Measurement) energi getaran gempa-gempa pada periode 1 Januari 2015 hingga 10 Juni 2015 menunjukkan fluktuasi energi. Sejak 05 Mei 2015 hingga 10 Juni 2015 tampak nilai RSAM mengalami kecenderungan yang meningkat (Lampiran 2).

2. Pengukuran deformasi - EDM
Pengukuran deformasi - EDM dilakukan di Desa Sukanalu dari titik ukur SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m), terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan reflektor SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung. Grafik hasil pengukuran EDM pada kurun waktu 5 Maret 2014 hingga 10 Juni 2015 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Hasil pengukuran perubahan jarak miring dari SNB1 ke SNB3, dan SNB1 ke SNB2 pada periode 02 Juni 2015 hingga 10 Juni 2015, masih menunjukkan kecenderungan memanjang (deflasi).


3. Pengukuran deformasi - tiltmeter
Pengukuran deformasi - tiltmeter secara kontinyu dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung). Grafik hasil pengukuran ungkitan dengan tiltmeter selama kurun waktu dari 1 Januari hingga 9 Juni 2015 pukul 13:02 WIB dapat dilihat pada Lampiran 4.

Hasil pengukuran tiltmeter di Stasiun Sukanalu, pada periode 02 Juni hingga 06 Juni 2015, komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan pola fluktuasi sedangkan komponen sumbu Y (radial) cenderung naik/inflasi. Pada tanggal 07 Juni 2015 hingga 10 Juni 2015, komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan deflasi dan komponen sumbu Y (radial) juga menunjukkan deflasi. Di Stasiun Laukawar pada periode 02 Juni hingga 10 Juni 2015, komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan inflasi sedangkan komponen sumbu Y (radial) cenderung berfluktuasi.


4. Pengukuran fluks SO2

Fluks SO2 diukur menggunakan DOAS pada jarak antara 4-6 km dari puncak. Sedangkan suhu air panas Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT) diukur secara kontinyu sejak awal September 2013. Grafik hasil pengukuran fluks SO2 dan suhu air panas selama kurun waktu dari 1 Januari 2015 hingga 9 Juni 2015 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Pada periode 1 Januari 2015 - 9 Juni 2015, fluks SO2 berfluiktuasi antara 56 ton/hari hingga 1606 ton/hari. Fase-fase erupsi pada tanggal 5 Maret, 2 April, 28 April 2015 dan 8 Juni 2015 dicirikan oleh fluks SO2 antara 400 - 500 ton/hari. Fluks SO2 tertinggi di G. Sinabung terjadi pada kurun waktu 11-18 Januari 2014 yang mencapai 1234 hingga 4457 ton/hari yaitu ketika terjadi erupsi dengan durasi cukup lama.

Periode 1 januari 2015 - 9 Juni 2015 suhu mata air panas Payung masih berfluktuasi namun tidak terjadi perubahan yang signifikan, yaitu antara 53 – 54°C dan kandungan CO2 berfluktuasi antara 23 – 34 %.



III. EVALUASI

1. Secara visual aktivitas yang dominan berupa hembusan asap dan penumpukan kubah lava di puncak yang sering diikuti oleh guguran dari puncak lava serta kadang-kadang awan panas guguran.

2. Pada periode ini jumlah Gempa Guguran meningkat bila dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Meningkatnya jumlah Gempa Guguran ini juga diiringi oleh peningkatan trend RSAM yang menunjukkan peningkatan energi yang terkandung dalam gempa. Jumlah harian gempa-gempa vulkanik (terutama Gempa Vulkanik Dalam atau VA), Hybrid dan Low Frequency (LF) sempat menunjukkan peningkatan, walaupun jumlah hariannya berfluktuasi, menandakan masih berlangsungnya tekanan atau suplai magma baru.

3. Pengukuran deformasi dengan EDM di stasiun Sukanalu menunjukkan pola deflasi. Pengukuran dengan tiltmeter di Stasiun Sukanalu pada perioda 07 Juni 2015 hingga 10 Juni 2015 pada komponen sumbu X (tangensial) dan sumbu Y (Radial) juga menunjukkan pola deflasi (setelah beberapa hari sebelumnya inflasi).

4. Fluks SO2 dalam 1 minggu terakhir menunjukkan peningkatan dari 237 ton/hari (04 Juni 2015) menjadi 529 ton/hari (09 Juni 2015). Suhu dan komposisi kimia air panas (CO2) tidak menunjukkan perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.


IV. POTENSI BAHAYA


*.Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi, ancamannya pada radius lk. 3 km, namun ancaman abu erupsi tersebut dapat mencapai > 3 km karena bergantung arah dan kuatnya angin.

*. Pertumbuhan kubah lava di puncak dengan akumulasi volume kubah yang terus membesar dan tidak stabil (hampir 2 kali lipat dari sebelumnya) menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Pasca kejadian awanpanas guguran pada 28 April 2015 pkl 17.02 WIB pertumbuhan kubah lava terus terbentuk yang berpotensi terjadinya guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas yang mengancam ke arah selatan-tenggara (yaitu mulai jalan raya pejumaan Batukejan/simpang Sibintun-jembatan Lau Benuken Tigapancur-Ojolali-Tigapancur-simpang Beganding hingga Perjumaan Tigabogor).

*. Guguran lava pijar atau awan panas yang berasal dari puncak di sisi barat aliran (lidah) lava mengancam ke arah Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan, Desa Pintumbesi, Dusun Sibintun hingga jalan raya Desa Tingapancur-pejumaan Tigabogor. Sedangkan ancaman yang dari sisi timur aliran lava mengancam ke arah Desa Bekerah-Desa Simacem (sektor tenggara-timur).

*. Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada.

*. Mengingat alterasi yang cukup kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir ketika musim hujan, yang terbatas pada daerah sekitar lembah dan aliran sungai.

*. Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi, mengingat curah hujan masih relatif tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

*. Pada aliran lava baru (2014) bukit Uruk Tuhan terjadi guguran lava di sisi timur dan tenggara, menyebabkan menumpuknya material rombakan yang berpotensi menjadi lahar saat hujan deras. Kawasan Rawan Bencana letusan G. Sinabung selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.


V. KESIMPULAN

1. Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung maka tingkat aktivitas G. Sinabung hingga tanggal 10 Juni 2015 pukul 06.00 WIB masih tetap Level IV (Awas).

2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi aktivitas G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

3. Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya.


VI. REKOMENDASI
Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas Level IV (Awas), maka kami rekomendasikan :

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius lk.3 km, dan lk 5 km untuk sektor tenggara G. Sinabung karena sektor tersebut merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

2. Masyarakat di dalam radius lk.7 km untuk sektor selatan-tenggara G. Sinabung, yaitu yang tinggal di : Pasarpinter Gurukinayan-simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, jembatan Lau Benuken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pejumaan Tigabogor, Desa Pintumbesi agar dievakuasi ke lokasi yang aman, karena sektor tersebut terletak di bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran awan panas.

3. Bila kejadian awan panas menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian dan atau adanya peningkatan ancaman awan panas ke sektor selatan-tenggara G. Sinabung, agar dilakukan penutupan jalan mulai dari : jalan raya simpang Gurukinayan-simpang Sibintun-jembatan Lau Benuken Tigapancur-Ojolali-Tigapancur-simpang Beganding dan Perjumaan Tigabogor.

4. Bila terjadi rentetan letusan maupun rentetan kejadian awan panas seperti di atas maka berpotensi juga diikuti oleh erupsi eksplosif (letusan), oleh karena itu masyarakat di desa : Jeraya, Mardinding, Sukanalu, Sigarang-garang, Kutagugung, Lau Kawar agar di evakuasi sementara ke tempat yang aman.

5. Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar direlokasi.

6. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung dan berada di depan bukaan kawah, berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu: 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Desa Gurukinayan); Kecamatan Naman Teran (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar direlokasi ke tempat yang aman.

7. Masyarakat yang terdampak abu erupsi dihimbau untuk memakai masker bila keluar rumah, serta mengamankan sarana air bersih dari abu vulkanik agar tidak terkontaminasi, juga membersihkan abu vulkanik dari atap rumah dan pekarangan.

8. Sehubungan dengan kondisi curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

9. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

10. Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

11. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

12. Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung (Telp. 0628-91575) di Gg. Kayu Bakar, Jl. Kiras Bangun, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

_____________________________________

PVMBG: Peningkatan Status G. Sinabung Dari Tingkat Aktivitas Level Iii (siaga) Menjadi Level Iv (awas)
03 June 2015

I. Pendahuluan


1. Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif masuk dalam Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis ada pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

2. Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013 dan meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013. Sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas G. Sinabung diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga).

II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual

1. Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak 25 Mei 2015 adalah sebagai berikut:

2. Tanggal 25 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis (Pukul 19:20-22:45 WIB), angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur atau baratdaya, suhu udara 18 – 27° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 200 meter di atas puncak. Teramati guguran lava dari puncak sejauh 1000-1500 meter ke Selatan.

3. Tanggal 26 Mei 2015 teramati cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas gerimis, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur, suhu udara 18 – 24° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 100 hingga 400 meter di atas puncak. Teramati 1 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 2500 meter ke selatan, serta guguran lava dari puncak sejauh 1000-2000 meter ke arah selatan.

4. Tanggal 27 Mei 2015 teramati cuaca cerah-mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur-timurlaut, suhu udara 18 – 29° C. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 200-700 meter di atas puncak. Teramati 3 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 2000-3000 meter ke selatan, tinggi kolom abu tertutup kabut, serta guguran lava dari puncak sejauh 1000-2000 meter ke arah selatan.

5. Tanggal 28 Mei 2015 teramati cuaca berawan hingga hujan gerimis-deras (Pukul 15:23-17:45 WIB), angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur atau selatan, suhu udara 18 – 30° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis-tebal berwarna putih dengan tinggi 200 di atas puncak. Teramati 2 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur 1000-2000 meter ke selatan dan tenggara, tinggi kolom abu tertutup kabut, serta guguran lava dari puncak sejauh 1000-1500 meter ke arah selatan.

6. Tanggal 29 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan gerimis-deras (Pukul18:32-20:30 WIB), angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur atau selatan, suhu udara 18 – 26° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 500 meter di atas puncak serta guguran lava dari puncak sejauh 1000-1500 meter ke arah selatan.

7. Tanggal 30 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah barat-baratdaya, suhu udara 16 – 29° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 300-500 meter di atas puncak serta guguran lava dari puncak sejauh 500 - 2000 meter ke arah selatan dan tenggara.

8. Tanggal 31 Mei 2015 teramati cuaca berawan hingga mendung, angin bertiup tenang-perlahan, suhu udara 18 – 22° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal berwarna putih dengan tinggi 500 meter di atas puncak serta guguran lava dari puncak sejauh 700 - 750 meter ke arah selatan.

9. Tanggal 1 Juni 2015 teramati cuaca cerah-berawan, angin tenang-sedang, suhu udara 17-27°C. Gunungapi tampak jelas. Asap putih tebal tinggi 500 meter. Teramati guguran lava pijar dari puncak sejauh 1000-2000 meter ke arah selatan.

10. Tanggal 2 Juni 2015 (hingga pukul 06:00 WIB) teramati cuaca mendung, angin tenang-perlahan ke barat-baratdaya, suhu udara 15-17°C. Gunungapi tertutup kabut. Terjadi 2 kali Awan Panas Guguran, visual tertutup kabut.

Sejak tanggal 25 Mei 2015 hingga 2 Juni 2015 pagi, gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Pada saat tampak jelas, teramati hembusan tipis hingga tebal berwarna putih dengan tinggi 200 hingga 700 m di atas puncak.

2.2 Instrumental

1. Kegempaan harian:

1. Tanggal 25 Mei 2015 terekam 79 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 74 mm dan lama gempa 15 - 147 detik. 8 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3 - 15 mm dan lama gempa 6 - 25 detik. 6 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 5 - 52 mm dan lama gempa 6 - 16 detik.. 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 6 – 9 mm, lama gempa 7 - 12 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 14 – 34 mm, lama gempa 15 - 21 detik, dan S - P 1,9 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 11 mm dan lama gempa 49 detik, S-P 10,8 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

2. Tanggal 26 Mei 2015 terekam 94 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 90 mm dan lama gempa 20 - 247 detik. 2 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 4 - 6 mm dan lama gempa 14 - 16 detik. 7 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 50 mm dan lama gempa 7 - 25 detik. 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 5 – 6 mm dan lama gempa 4 - 6 detik. 25 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 6 – 110 mm, lama gempa 6 - 27 detik, dan S - P 0,5 – 3,0 detik. 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplituda 110-120 mm, lama gempa 80-103 detik dan S – P 3,4 - 4,5 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

3. Tanggal 27 Mei 2015 terekam 162 kali Gempa Guguran dengan amplituda 5 - 116 mm dan lama gempa 20 - 310 detik. 22 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 15 mm dan lama gempa 8 - 25 detik. 4 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 4 - 28 mm dan lama gempa 6 - 20 detik. 14 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 7 – 70 mm, lama gempa 6 - 20 detik dan S - P 0,5 – 2,1 detik. 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplituda 25 mm, lama gempa 28 detik dan S – P 4,2 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 16 mm, lama gempa 170 detik dan S – P tidak terbaca. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

4. Tanggal 28 Mei 2015 terekam 104 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 106 mm dan lama gempa 16 - 258 detik. 14 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3 - 16 mm dan lama gempa 7 - 21 detik. 9 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 43 mm dan lama gempa 9 - 25 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 15 mm, lama gempa 12 detik. 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 4 – 16 mm, lama gempa 7 - 19 detik dan S - P 1,4 – 3,3 detik. 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplituda 98 mm, lama gempa 52 detik dan S – P 1,6 detik. Terekam getaran laharan dengan amplituda 3-120 (dominan 110 mm), lama getaran 30-217 menit. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm (dominan 0,5 mm).

5. Tanggal 29 Mei 2015 terekam 98 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 72 mm dan lama gempa 25 - 175 detik. 12 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 23 mm dan lama gempa 7 - 40 detik. 3 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 10 - 32 mm dan lama gempa 10 - 17 detik. 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 4-10 mm, lama gempa 7-16 detik. 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 6 – 65 mm, lama gempa 7 - 30 detik dan S - P 1 – 2,5 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 3 mm, lama gempa 115 detik dan S – P tidak terbaca.Terekam getaran laharan dengan amplituda 5-22 (dominan 10 mm), lama getaran 30-217 menit. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

6. Tanggal 30 Mei 2015 terekam 110 kali Gempa Guguran dengan amplituda 4 - 100 mm dan lama gempa 20 - 204 detik. 12 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 2 - 12 mm dan lama gempa 7 - 20 detik. 7 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 3 - 25 mm dan lama gempa 6 - 21 detik. 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dengan amplituda 6 mm, lama gempa 7 detik. 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 7 – 25 mm, lama gempa 7 - 30 detik dan S - P 1 – 1,9 detik. 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 4-92 mm, lama gempa 237-336 detik dan S – P 13 tidak terbaca. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm (dominan 0,5 mm).

7. Tanggal 31 Mei 2015 terekam 108 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3 - 98 mm dan lama gempa 26 - 245 detik. 14 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3 - 21 mm dan lama gempa 5 - 18 detik. 6 kali Gempa Hybrid dengan amplituda 6 - 58 mm dan lama gempa 7 - 21 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 65 – 100 mm, lama gempa 25 - 30 detik dan S - P 1,2 – 1,4 detik. 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 3-5 mm, lama gempa 100-270 detik dan S – P 42 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5 - 1 mm (dominan 0,5 mm).

8. Tanggal 1 Juni 2015 terekam 133 kali gempa Guguran dengan amplituda 5-100 mm dan lama gempa 24-305 detik. 7 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3-11 mm dan lama gempa 6-15 detik. 3 kali gempa Hybrid dengan amplituda 9-30 mm dan lama gempa 22 detik. 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 5-7 mm dan lama gempa 7-13 detik, s-p 1,7-1,9 detik. 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplituda 20 mm, lama gempa 30 detik dan S – P 8 detik. 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda 20-60 mm, lama gempa 39-159 detik dan S – P 11-37 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm).

9. Tanggal 2 Juni 2015 (hingga pukul 06:00 WIB) terekam 41 kali gempa Guguran dengan amplituda 3-110 mm dan lama gempa 30-225 detik. 2 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda 3-4 mm dan lama gempa 6-9 detik. 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda 10 mm dan lama gempa 7 detik, s-p 1,5 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplituda 0,5-9 mm (dominan 0,5 mm).

Selama periode 25 Mei – 2 Juni 2015 pagi, gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Hybrid, Low Frequency (LF), Vulkanik Dalam (VA), Vulkanik Dangkal (VB) Tektonik Lokal (TL), Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor. Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava terekam rata-rata 111 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma terekam rata-rata 8 kejadian/hari. Gempa Low Frequency (LF) yang mengindikasikan adanya aliran fluida terekam rata-rata 15 kejadian/hari dan Gempa Hybrid yang mengindikasikan pembentukan kubah lava terekam rata-rata 7 kejadian/hari. Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 0,5-9 mm (rata-rata dominan 0,5 mm). (Lampiran 1)

RSAM (Real-time Seismic Amplituda Measurement) energi getaran gempa-gempa selama periode 1 Januari 2015 hingga 2 Juni 2015 pagi masih menunjukkan fluktuasi energi (Lampiran 2).

2. Pengukuran jarak dengan EDM

Pengukuran jarak dengan EDM dilakukan dari SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m) Desa Sukanalu, terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung. Grafik hasil pengukuran jarak dengan EDM selama kurun waktu dari 5 Maret 2014 hingga 30 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Pengukuran EDM Sukanalu selama periode 19 Mei 2015 hingga 30 Mei 2015, menunjukkan perubahan jarak miring yang cenderung sedikit memendek (inflasi) untuk pengukuran SNB1 ke SNB3, dan SNB1 ke SNB2.

3. Pengukuran ungkitan dengan tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung). Grafik hasil pengukuran ungkitan dengan tiltmeter selama kurun waktu dari 1 Januari hingga 2 Juni 2015 pukul 06:39 WIB dapat dilihat pada Lampiran 4.

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu, pada periode 25 Mei hingga 2 Juni 2015, data tilt untuk komponen sumbu X (tangensial) menunjukkan pola deformasi deflasi sedangkan komponen sumbu Y (radial) berkecenderungan terus naik/inflasi. Untuk tiltmeter kontinyu di stasiun Laukawar pada periode 25 Mei hingga 1 Juni 2015, baik komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola berfluktuasi sedangkan komponen sumbu Y (radial), menurun/deflasi.

4. Pengukuran fluks gas SO2

Pengukuran fluks gas SO2 dilakukan dari Desa Sukatepu di tenggara puncak G. Sinabung. Sementara suhu mata air panas diukur secara kontinyu sejak awal September 2013 di daerah Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT), di kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung. Grafik hasil pengukuran fluks gas SO2 dan suhu air panas selama kurun waktu dari 1 September 2013 hingga 31 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Setelah terjadi erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11 - 18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi yaitu berkisar 1.234 – 3.796 ton/hari; setelah itu menurun hingga 1.234 ton/hari. Pada periode tanggal 25 hingga 30 Mei 2015 fluks SO2 berkisar 225 – 275 ton/hari

Pada periode 25 hingga 31 Mei 2015 suhu mata air panas berkisar 53,7 – 53,8°C dan kandungan gas CO2 berkisar 23 – 34 %.

III. Evaluasi


1. Secara visual aktivitas yang dominan teramati adalah hembusan dan menerusnya penumpukan kubah lava di puncak yang sering diikuti oleh guguran dari puncak lava serta kadang-kadang awan panas guguran.

2. Secara umum pada periode ini terjadi peningkatan jumlah Gempa Guguran yang terekam dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Peningkatan jumlah gempa Guguran ini juga diiringi oleh peningkatan trend RSAM yang menunjukkan peningkatan energi yang terkandung dalam gempa.Jumlah harian gempa-gempa vulkanik (terutama Gempa Vulkanik Dalam atau VA), Hybrid dan Low Frequency (LF) sempat menunjukkan peningkatan, walaupun sekarang jumlah hariannya berfluktuasi, menandakan masih berlangsungnya tekanan atau suplai magma baru.

3. Pengukuran deformasi pada periode ini baik dengan EDM atau tiltmeter menunjukkan kecenderungan inflasi.

4. Pengukuran fluks gas SO2 dalam 1 minggu terakhir menunjukkan fluks yang relatif kecil (< 300 ton/hari), sedangkan parameter kimia air panas pada periode ini tidak menunjukkan perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.

IV. Potensi Bahaya

Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi, ancamannya pada radius lk. 3 km, namun ancaman abu erupsi tersebut dapat mencapai > 3 km karena bergantung arah dan kuatnya angin.

Pertumbuhan kubah lava di puncak dengan akumulasi volume kubah yang semakin terus membesar dan tidak stabil (hampir 2 kali lipat dari sebelumnya) menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Pasca kejadian awanpanas guguran pada 28 April 2015 pkl 17.02 WIB pertumbuhan kubah lava terus terbentuk yang berpotensi terjadinya guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas yang mengancam ke arah selatan-tenggara (yaitu mulai jalan raya pejumaan Batukejan/simpang Sibintun-jembatan Lau Benuken Tigapancur-Ojolali-Tigapancur-simpang Beganding hingga Perjumaan Tigabogor).

Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada.

Mengingat alterasi yang cukup kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan, yang terbatas pada daerah sekitar lembah dan aliran sungai.

Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

Pada aliran lava baru (2014) bukit Uruk Tuhan terjadi guguran lava di sisi timur dan tenggara, menyebabkan menumpuknya material rombakan yang berpotensi menjadi lahar saat hujan deras.

Guguran lava pijar atau awan panas yang berasal dari puncak di sisi barat aliran (lidah) lava mengancam ke arah Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan, Desa Pintumbesi, Dusun Sibintun hingga jalan raya Desa Tingapancur-pejumaan Tigabogor. Sedangkan ancaman yang dari sisi timur aliran lava mengancam ke arah Desa Bekerah-Desa Simacem (sektor tenggara-timur).

Kawasan Rawan Bencana letusan G. Sinabung selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.

V. Kesimpulan

1. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi aktivitas G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

2. Jika terjadi penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya.

3. Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung maka tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung tanggal 2 Juni 2015 Pukul 23:00 WIB.

VI. Rekomendasi

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas Level IV (Awas), maka kami rekomendasikan:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius lk.3 km, dan lk 5 km untuk sektor tenggara G. Sinabung karena sektor-sektor tersebut merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

2. Masyarakat di dalam radius lk.7 km untuk sektor selatan-tenggara G. Sinabung, yaitu yang tinggal di : Pasarpinter Gurukinayan-simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, jembatan Lau Benuken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pejumaan Tigabogor, Desa Pintumbesi agar dievakuasi ke lokasi yang aman, karena sektor tersebut terletak di bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran awan panas.

3. Bila kejadian awan panas menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian dan atau adanya peningkatan ancaman awan panas ke sektor selatan-tenggara G. Sinabung, agar dilakukan penutupan jalan mulai dari : jalan raya simpang Gurukinayan-simpang Sibintun-jembatan Lau Benuken Tigapancur-Ojolali-Tigapancur-simpang Beganding dan Perjumaan Tigabogor.

4. Bila terdapat potensi rentetan kejadian awan panas seperti di atas maka berpotensi juga diikuti oleh erupsi eksplosif (letusan), oleh karena itu masyarakat di desa : Jeraya, Mardinding, Sukanalu, Sigarang-garang, Kutagugung, Lau Kawar agar di evakuasi sementara ke tempat yang aman.

5. Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar direlokasi.

6. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung dan berada di depan bukaan kawah, berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu: 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Desa Gurukinayan); Kecamatan Naman Teran (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar direlokasi ke tempat yang aman.

7. Masyarakat yang terdampak abu letusan dihimbau untuk memakai masker bila keluar rumah, serta mengamankan sarana air bersih dari jatuhan abu vulkanik, supaya tidak terkontaminasi, juga membersihkan abu vulkanik dari atap rumah dan pekarangan.

8. Sehubungan dengan kondisi curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

9. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

10. Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

11. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung (Telp. 0628-91575) di Gg. Kayu Bakar, Jl. Kiras Bangun, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.
__________________________

BREAKING NEWS:

Sinabung 2 Juni 2015 dinaikkan Statusnya dari SIAGA ke AWAS terhitung 2 Juni 2015 Pukul 23:00 WIB.

Berdasarkan pemantauan visual, terjadi peningkatan volume kubah lava. Berdasarkan peantauan instrumental terjadibpeningkatan energi dan jumlah gempa vulkanik, juga terpantau inflasi pada pemantauan deformasi arah radial.

Rekomendasi:
Masyarakat yg bermukim dalam jarak/radius 7 kmSelatan - Tenggara (Pasarpinter Gurukinayan-Simpang Sibintun/Perjumaan Batukejan, Jembatan Lau Bunaken Tigapancur, Desa Tigapancur-Pajumaan Tigabogor, Desa Pintubesi, agar dievakuasi ke tempat yg aman.
Bila terjadi serangkaian awan panas guguran dan peningkatan ancaman bahaya yg lbh besar maka agar dilakukan penutupan jalur jalan: Jln Raya Simpang-Gurukinayan-Simpang Sibitun-Jembatan Lau Bunaken Tigapancur - Ojolali - Tigapancur - Simpang Bagading dan Perjumaan Tigabogor.

Yg telah direkomendasi untuk direlokasi (2010): Desa Sukameriah, Desa Berkerah dan Desa Simacem. Rekomendasi 2013 yg harus direlokasi : Desa Gurukinayan, Desa Kotatonggsa, Desa Berastepu dan Dusun Sibintun, serta Desa Gember.

Data : PVMBG.
Salam : Surono / Mbah Rono

_________________________

PVMBG: Evaluasi Data Pengamatan G. Sinabung, Sumatera Utara Dalam Tingkat Aktivitas Level Iii (siaga) Hingga Tanggal 12 Mei 2015 Pukul 06:00 Wib

13 May 2015

I. Pendahuluan


Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif masuk dalam Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis ada pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013 dan meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013. Sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas G. Sinabung diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga).


II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual

Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual dari tanggal 4 Mei hingga 12 Mei 2015 pukul 06:00 WIB adalah sebagai berikut:

Tanggal 4 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah timur atau barat daya, suhu udara 16 – 27° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tipis hingga tebal dengan warna putih hingga keabu-abuan dan tinggi 100 hingga 700 meter di atas puncak.

Tanggal 5 Mei 2015 teramati cuaca berawan hingga mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah timur, suhu udara 19 – 24° C. Gunungapi tertutup kabut.

Tanggal 6 Mei 2015 teramati cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas ringan, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah timur, suhu udara 18 – 26° C. Gunungapi tertutup kabut.

Tanggal 7 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga sedang ke arah barat atau barat laut, suhu udara 16 – 30° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal dengan warna putih dan tinggi 200 hingga 600 meter di atas puncak.

Tanggal 8 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga hujan dengan intensitas ringan hingga deras, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat, barat daya atau timur, suhu udara 18 – 23° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal dengan warna putih dan tinggi 300 hingga 500 meter di atas puncak.

Tanggal 9 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat atau timur, suhu udara 14 – 26° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal dengan warna putih dan tinggi 150 hingga 400 meter di atas puncak.

Tanggal 10 Mei 2015 teramati cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah timur, suhu udara 16 – 28° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal dengan warna putih dan tinggi 400 hingga 500 meter di atas puncak serta guguran lava dari puncak sejauh 1000 meter ke arah selatan.

Tanggal 11 Mei 2015 teramati cuaca berawan - mendung, angin bertiup tenang hingga perlahan ke arah barat atau timur, suhu udara 19 – 24° C. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Saat gunungapi jelas teramati hembusan tebal dengan warna putih dan tinggi 300 hingga 500 meter di atas puncak.

Tanggal 12 Mei 2015 hingga pukul 06:00 WIB teramati cuaca berawan, angin bertiup tenang, suhu udara 16 – 19° C. Gunungapi tertutup kabut.

Sejak tanggal 4 Mei 2015 hingga 12 Mei 2015 pukul 06:00 WIB, gunungapi nampak jelas-tertutup kabut, pada saat tampak jelas, teramati asap putih tipis-tebal, tinggi asap 100-700 meter. Pada tanggal 12 Mei 2015 teramati satu kali Awan Panas Guguran dari puncak sejauh 3000 meter ke arah Selatan dengan kolom abu tertutup kabut.



2.2 Instrumental

1. Kegempaan harian:

Tanggal 4 Mei 2015 terekam 28 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 90 mm dan lama gempa 23 - 210 detik. 10 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 3 - 9 mm dan lama gempa 7 - 12 detik. 6 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 6 - 21 mm dan lama gempa 8 - 17 detik. 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 5 – 11 mm, lama gempa 7,5 - 10 detik, dan S - P 1 – 1,84 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 5 Mei 2015 terekam 28 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 86 mm dan lama gempa 20 - 105 detik. 7 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 3 - 27 mm dan lama gempa 6 - 18 detik. 9 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 3 - 40 mm dan lama gempa 8 - 20 detik. 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 7 – 100 mm, lama gempa 8 - 35 detik, dan S - P 1,2 – 2,1 detik. 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dengan amplitudo 14 mm, lama gempa 38 detik dan S – P 5,3 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 9 mm dan lama gempa 220 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).
Tanggal 6 Mei 2015 terekam 30 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 4 - 19 mm dan lama gempa 15 - 110 detik. 7 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 2 - 15 mm dan lama gempa 10 - 35 detik. 7 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 3 - 14 mm dan lama gempa 5 - 16 detik. 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 5 – 11 mm, lama gempa 7,5 - 10 detik dan S - P 1 – 1,84 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 4 mm dan lama gempa 150 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 7 Mei 2015 terekam 21 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 16 mm dan lama gempa 45 - 105 detik. 6 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 3 - 6 mm dan lama gempa 10 - 20 detik. 2 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 5 - 9 mm dan lama gempa 6 - 11 detik. 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 5 – 55 mm, lama gempa 6 - 20 detik dan S - P 1 – 3,8 detik. 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 3 - 56 mm, lama gempa 91 – 237 detik dan S – P 25 - 77 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 8 Mei 2015 terekam 21 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 30 mm dan lama gempa 18 - 170 detik. 5 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 4 - 12 mm dan lama gempa 8 - 18 detik. 2 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 5 - 38 mm dan lama gempa 11 - 13 detik. 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 4 – 68 mm, lama gempa 6 - 20 detik dan S - P 0,5 – 3,5 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 9 Mei 2015 terekam 38 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 36 mm dan lama gempa 15 - 105 detik. 11 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 2 - 34 mm dan lama gempa 6 - 24 detik. 3 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 3 - 5 mm dan lama gempa 5 - 7 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 22 mm, lama gempa 180 detik dan S – P 46 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 10 Mei 2015 terekam 45 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 4 - 96 mm dan lama gempa 20 - 180 detik. 9 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 2 - 10 mm dan lama gempa 5 - 23 detik. 4 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 3 - 28 mm dan lama gempa 8 - 18 detik. 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 3 – 7 mm, lama gempa 8 - 11 detik dan S - P 0,9 – 1,57 detik. 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 16 mm, lama gempa 80 detik dan S – P 37 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 1 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 11 Mei 2015 terekam 43 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 3 - 42 mm dan lama gempa 17 - 105 detik. 5 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 2 - 14 mm dan lama gempa 10 - 27 detik. 1 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 10 mm dan lama gempa 12 detik. 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 4 – 20 mm, lama gempa 9 - 17 detik dan S - P 1,2 – 3,5 detik. 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitudo 10 - 72 mm, lama gempa 74 - 114 detik dan S – P 15 - 24 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 2 mm (dominan 0,5 mm).

Tanggal 12 Mei 2015 hingga pukul 06:00 WIB terekam 25 kali Gempa Guguran dengan amplitudo 5 - 105 mm dan lama gempa 30 - 190 detik. 3 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplitudo 3 - 6 mm dan lama gempa 7 - 15 detik. 2 kali Gempa Hybrid dengan amplitudo 3 - 5 mm dan lama gempa 8 - 20 detik. 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitudo 10 – 110 mm, lama gempa 20 - 35 detik dan S - P 1,23 – 2,12 detik. Terekam Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 3 mm (dominan 0,5 mm).

Selama periode 4 – 12 Mei 2015 hingga pukul 06:00 WIB, gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Hybrid, Low Frequency (LF), Vulkanik Dalam (VA), Tektonik Lokal (TL), Tektonik Jauh (TJ), dan Tremor. Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, terekam rata-rata 31 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma, terekam rata-rata 5 kejadian/hari. Gempa Low Frequency (LF) yang mengindikasikan adanya aliran fluida (LF terekam rata-rata 7 kejadian/hari) dan Gempa Hybrid yang mengindikasikan pembentukan kubah lava (Hybrid terekam rata-rata 4 kejadian/hari). Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 0.5-3 mm (rata-rata dominan 0.5 mm). (Lampiran 1)

RSAM (Real-time Seismic Amplituda Measurement) energi getaran gempa-gempa selama periode 1 Januari 2015 hingga 12 Mei 2015 pukul 06:00 WIB menunjukkan pola datar (Lampiran 2).



2. Pengukuran jarak dengan EDM

Pengukuran jarak dengan EDM dilakukan dari SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m) Desa Sukanalu, terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung. Grafik hasil pengukuran jarak dengan EDM selama kurun waktu dari 5 Maret 2014 hingga 11 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 4.

Pengukuran EDM Sukanalu selama periode 4 Mei 2015 hingga 12 Mei 2015, menunjukkan perubahan jarak miring yang cenderung memendek (inflasi) untuk SNB1 ke SNB3, sedangkan untuk SNB1 ke SNB2 masih relatif berfluktuatif tetapi cenderung stabil. Pada periode 4 Mei 2015 – 12 Mei 2015, perubahan jarak miring menunjukan pola relatif sama (stabil).



3. Pengukuran ungkitan dengan tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung). Grafik hasil pengukuran ungkitan dengan tiltmeter selama kurun waktu dari 7 November 2013 hingga 12 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu, pada periode 4 Mei hingga 12 Mei 2015 pukul 06:00 WIB, data tilt untuk komponen sumbu X (tangensial) dan sumbu Y (radial) masih menunjukkan pola deformasi fluktuatif tetapi pada trend stabil.

Untuk tiltmeter kontinyu di stasiun Laukawar pada periode 4 Mei hingga 12 Mei 2015 pukul 06:08 WIB, baik komponen sumbu X (tangensial) maupun komponen sumbu Y (radial), memperlihatkan pola deformasi fluktuatif tetapi pada trend stabil.



4. Pengukuran fluks gas SO2

Pengukuran fluks gas SO2 dilakukan dari Desa Sukatepu di tenggara puncak G. Sinabung. Grafik hasil pengukuran fluks gas SO2 selama kurun waktu dari 1 September 2013 hingga 4 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 6.

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi yaitu berkisar 1.234 – 3.796 ton/hari; setelah itu menurun hingga 1.234 ton/hari. Pada tanggal 4 Mei 2015, dilakukan 1 (satu) kali pengukuran dengan hasil 564 ton/hari.



5. Pengukuran parameter kimia air panas

Suhu mata air panas diukur secara kontinyu sejak awal September 2013 di daerah Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT), di kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung. Grafik pengukuran parameter kimia air panas selama kurun waktu dari 1 Oktober 2013 hingga 4 Mei 2015 dapat dilihat pada Lampiran 7.

Pada periode 4 Mei hingga 12 Mei 2015, suhu mata air panas berkisar 53,9 – 54o C. Kandungan gas CO2 berkisar 25 - 34 %, belum menunjukkan kestabilan dan SO2 selama periode ini tidak muncul (nol) sedangkan H2S terukur 0,6 ppm.



III. Evaluasi

Secara visual aktivitas yang dominan teramati adalah hembusan dari puncak, sementara guguran jarang teramati.

Secara umum pada periode ini terjadi penurunan jumlah kegempaan yang terekam dibandingkan dengan periode sebelumnya. Penurunan jumlah ini juga diiringi oleh penurunan trend RSAM yang menunjukkan penurunan energi yang terkandung dalam gempa. Meskipun terjadi penurunan jumlah kegempaan, Gempa-gempa Vulkanik Dalam (VA), Hybrid dan Low Frequency (LF) masih terekam yang menandakan masih berlangsungnya tekanan atau suplai magma baru.

Pengukuran deformasi pada periode ini baik dengan EDM atau tiltmeter tidak menunjukkan adanya kecenderungan inflasi maupun deflasi.

Pengukuran fluks gas SO2 dan parameter kimia air panas pada periode ini tidak menunjukkan perubahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.



IV. Potensi Bahaya

Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi, ancamannya pada radius lk. 3 km, namun ancaman abu erupsi tersebut dapat mencapai > 3 km karena bergantung arah dan kuatnya angin.

Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah lava baru di puncak (di sisi barat puncak lidah lava) disertai letusan, awan panas guguran dan guguran lava pijar dari puncak yang ancamannya ke sektor selatan (arah simpang Sibintun) bisa mencapai radius < 6 km dari puncak. Sedangkan yang ke arah tenggara (cenderung ke arah timur) ancamannya dalam radius lk.5 km dari puncak.

Guguran lava pijar dan awan panas yang berasal dari puncak di sisi barat aliran (lidah) lava mengancam ke arah Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan, dan yang di sisi timur aliran lava mengancam ke arah Desa Bekerah-Desa Simacem (sektor tenggara-timur).

Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini tidak menunjukkan perkembangan.

Mengingat alterasi yang cukup kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan, yang terbatas pada daerah sekitar lembah dan aliran sungai.

Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

Pada aliran lava baru (2014) bukit Uruk Tuhan terjadi guguran lava disisi timur dan tenggara, menyebabkan menumpuknya material rombakan yang berpotensi menjadi lahar saat hujan deras.

Kawasan Rawan Bencana letusan G. Sinabung selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.


V. Kesimpulan

Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

Jika terjadi perubahan penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan sesuai dengan tingkat aktivitas dan ancamannya.

Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 12 Mei 2015 pukul 06:00 WIB maka tingkat aktivitas G. Sinabung masih tetap Level III (Siaga).



VI. Rekomendasi
Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas Level III (Siaga), maka direkomendasikan:

1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius lk.3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius < 6 km untuk sektor selatan (arah pertigaan simpang Sibintun dan arah Desa Gurukinayan) mengikuti batas Kawasan Rawan Bencana III dan II di sektor tersebut, dan lk 5 km untuk sektor tenggara G. Sinabung karena kedua sektor tersebut merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

2. Bila kejadian awan panas menunjukkan peningkatan jarak luncur dari jarak terjauh sebelumnya (lk. 4,9 km) agar dilakukan penutupan jalan mulai dari Desa Tigapancur, pertigaan simpang Sibintun sampai simpang Gurukinayan.

3. Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar direlokasi.

4. Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung dan berada di depan bukaan kawah, berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu: 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Desa Gurukinayan); Kecamatan Naman Teran (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar direlokasi ke tempat yang aman.

5. Masyarakat yang terdampak abu letusan dihimbau untuk memakai masker bila keluar rumah, serta mengamankan sarana air bersih dari jatuhan abu vulkanik, supaya tidak terkontaminasi, juga membersihkan abu vulkanik dari atap rumah dan pekarangan.

6. Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

7. Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

8. Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

9. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

10. Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg.Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/aktivitas-gunungapi/841-evaluasi-data-pengamatan-g-sinabung-sumatera-utara-dalam-tingkat-aktivitas-level-iii-siaga-hingga-tanggal-12-mei-2015-pukul-0600-wib

_______________________________

Evaluasi Tingkat Aktivitas Siaga (level Iii) G. Sinabung Hingga Tanggal 11 September 2014

Perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
13 September 2014

I. PENDAHULUAN

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU dan 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Namun, sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB tingkat aktivitas kegiatan G. Sinabung diturunkan dari tingkat aktivitas AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III).



II. PENGAMATAN

2.1 VISUAL

Pemantauan secara visual dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak G. Sinabung. Hasil pemantauan secara visual dari tanggal 5 – 11 September 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 5 September 2014, Gunung jelas asap kawah teramati putih tebal - kebiruan, tinggi 400 meter. Hujan gerimis terjadi pukul 18:30 – 24:10 WIB. Guguran terjadi dari sisi barat sejauh 500 m ke arah tenggara. Sinar api di kubah malam tidak ada..

Tanggal 6 September 2014, Gunung jelas asap kawah teramati putih tebal - kebiruan, tinggi 200 - 300 meter. Guguran terjadi dari sisi barat sejauh 1000 m ke arah tenggara dan dari sisi timur sejauh 500 – 2000 m ke arah selatan. Pada malam sinar api di kubah tidak ada.

Tanggal 7 September 2014, Gunung jelas kadang tertutup kabut, asap putih tebal, tinggi 200 meter. Teramati guguran lava pijar dari puncak ke tenggara sejauh 1500 meter, dari dekat puncak teramati guguran terjadi ke tengah lidah lava sisi barat sejauh 500-1000 meter ke arah selatan dari sisi timur sejauh 1000 meter ke arah tenggara. Terjadi erupsi pukul 20:58 WIB kolom letusan berwarna kelabu tebal dengan tinggi 2000 meter terbawa angin ke tenggara, erupsi disertai dengan awanpanas ke tenggara sejauh 2000 meter. Abu letusan jatuh di Pos PGA Sinabung sangat tipis (berwarna coklat).

Tanggal 8 September 2014, Gunung jelas asap kawah teramati putih tebal, tinggi 500 meter. Guguran terjadi dari sisi barat sejauh 1000 m ke arah tenggara dan dari sisi timur sejauh 500 – 2000 m ke arah selatan. Pada malam sinar api di kubah tidak ada.

Tanggal 9 September 2014, Gunung jelas kadang tertutut kabut, asap kawah teramati putih tebal, tinggi 50 - 300 meter. Guguran terjadi dari sisi barat sejauh 1000 m ke arah tenggara dan dari sisi timur sejauh antara 500 – 1000 meter ke arah selatan. Pada malam sinar api di kubah tidak ada.

Tanggal 10 September 2014, Gunung jelas-tertutup kabut, asap putih tebal, tinggi 50-100 meter. Teramati satu kali guguran lava pijar pukul 18:55 WIB ke sisi barat sejauh 1500 meter ke arah selatan serta guguran terjadi dari sisi timur sejauh 300-1500 meter ke arah tenggara.

Tanggal 11 September 2014 (hingga pukul m06:00 WIB), Gunung jelas – tertutup kabut, asap putih tebal tinggi 50-200 meter. Teramati guguran lava dari puncak (sisi timur) sejauh 500 - 1500 meter ke tenggara dan (sisi barat) sejauh 500 - 1000 meter ke selatan.

Sejak tanggal 30 Juni 2014, teramati jalur lava baru di atas bukit Uruk Tuhan di sisi tenggara lidah lava yang ada, dan saat ini material guguran yang menumpuk sudah melewati bukit Uruk Tuhan. Panjang lidah lava pada tanggal 14 Agustus 2014 adalah 2.904 meter (2,9 km) dari puncak G. Sinabung. Pada pengukuran 6 September 2014 pukul 14:13 WIB adalah 2.915 meter (Lampiran 1).

Sejak tanggal 17 Juli 2014, teramati asap putih kebiruan keluar dari kawah G. Sinabung bergerak menuruni lereng hingga pemukiman penduduk Desa Sukanalu dan Desa Sigarang-garang dan tercium bau belerang lemah. Asap putih kebiruan ini terkadang hilang dan muncul kembali. Asap putih kebiruan teramati paling jelas pada tanggal 18 Juli 2014. Pada periode 5 – 11 September 2014 pernah teramati asap putih kebiruan pada 6 September 2014.



2.2 KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan dari tanggal 5 – 11 September 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 05 September 2014, terekam 92 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 8 – 112 mm dan lama gempa 35 – 240 detik, 134 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 3 – 26 mm, dan lama gempa 6 – 26 detik. 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 74 mm, S-P 50 detik dan lama gempa 185 detik. serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 36 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 06 September 2014, terekam 60 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 11 – 100 mm dan lama gempa 40 – 175 detik, 50 kali gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 10 mm, dan lama gempa 6 – 15 detik. serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 34 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 07 September 2014, terekam 1 (satu) kali Gempa Letusan dengan amplituda 120 mm dan lama gempa 1187 detik. 60 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 11 – 100 mm dan lama gempa 40 – 175 detik, 50 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 10 mm, dan lama gempa 6 – 15 detik. serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 34 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 08 September 2014, terekam 129 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 7 – 115 mm dan lama gempa 28 – 285 detik, 96 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 4 – 18 mm, dan lama gempa 6 – 26 detik.12 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 10 – 110 mm, S-P 0.25 – 4 detik dan lama gempa 10 – 26 detik. 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 70 mm, S-P 28 detik dan lama gempa 110 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 38 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 09 September 2014, terekam 98 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 3 – 110 mm dan lama gempa 41 – 360 detik, 65 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 5 – 18 mm, dan lama gempa 6 – 26 detik.. 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 15 – 80 mm, S-P 0.5 – 3 detik dan lama gempa 11 – 21 detik. 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 15 - 100 mm, S-P 38 detik dan lama gempa 137 - 216 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 60 mm (dominan 2 mm).

Tanggal 10 September 2014, terekam 85 kali Gempa Guguran dengan amplituda maksimum 9 – 108 mm dan lama gempa 33 – 217 detik. 47 kali Gempa Low Frequency (LF) dengan amplituda maksimum 5 – 34 mm, dan lama gempa 8 – 22 detik. 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplituda maksimum 37 – 110 mm, S-P 1.5 – 3.5 detik dan lama gempa 15 detik. 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplituda maksimum 5 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 305 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 1 – 64 mm (dominan 2 mm).
Tanggal 11 September 2014 (hingga pukul 06:00 WIB), terekam 102 kali Gempa Guguran dengan amplituda 3-104 mm dan lama gempa 37-212 detik. 53 kali Low Frequency (LF) dengan amplituda 4-23 mm dengan lama gempa 6-27 detik, 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA) dengan amplitude maksimum 45 – 114 mm, S-P 1 – 2 detik dan lama gempa 12 - 28 detik. 1 kali gempa Tektonik Jauh (TJ) dengan amplitude maksimum 36 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 200 detik, Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 1-53 mm (dominan 2 mm).

Selama periode 5 – 11 September 2014 gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Vulkanik Dalam (VA), Low Frequency (LF), Tektonik Jauh (TJ), dan Getaran Tremor. Gempa Guguran yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava terekam antara 60-129 kejadian/hari. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma terekam rata-rata lebih dari 3 (tiga) kejadian/hari. Gempa Low Frequency (LF) yang mengindikasikan adanya aliran fluida terekam rata-rata antara 47-134 kejadian/hari. Gempa Tektonik Jauh (TJ) yang mengindikasikan adanya sesar/ pergerakan lempeng, terekam kurang dari 2 (dua) kejadian/hari. Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 1-64 mm (rata-rata dominan 2 mm). (Lampiran 2)

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awan panas yang intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat, demikian juga dengan jumlah kejadian awan panas. Nilai RSAM pada periode 5 – 11 September 2014 tergolong rendah dan secara umum tampak menurun secara perlahan (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda Tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (03° 10' 41,8" LU; 98° 24' 20,8" BT, elevasi 1.626 m, lereng timur G. Sinabung) dan stasiun Lau Kawar (03° 11' 29,70" LU; 98° 23' 6,30" BT, elevasi 1.468 m, lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu, pada periode 5 – 11 September 2014 sumbu X (tangensial) menunjukkan pola deformasi relatif konstan dan sumbu Y (radial) menunjukkan pola deformasi inflasi walaupun relatif kecil (Lampiran 4).

Untuk tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar dalam periode 5 – 11 September 2014 komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola mendatar dan sumbu Y (radial) memperlihatkan pola deformasi deflasi (Lampiran 4).


2.3.2 EDM (Electronic Distance Measurement)

Pengamatan deformasi dengan EDM dilakukan dari SNB 1 (03° 10' 59,25" LU, 98° 25' 25,64" BT, elevasi 1.305 m) Desa Sukanalu, terhadap reflektor SNB 2 (03° 10' 42,50" LU, 98° 24' 50,50" BT, elevasi 1.436 m) dan SNB 3 (03° 10' 44,79" LU, 98° 24' 20,21" BT, elevasi 1.626 m) di lereng timur G. Sinabung, serta dari SNB 10 (03° 11' 44,06" LU, 98° 23' 13,02" BT, elevasi 1.432 m) desa Lau Kawar terhadap reflektor SNB 11 (03° 10' 39,7" LU, 98° 23' 25,3" BT, elevasi 2.050 m) di lereng utara G. Sinabung.

Hasil pengukuran EDM dari SNB 1 ke SNB 2, dan SNB 1 ke SNB 3, pada periode 5 – 11 September 2014 menunjukkan jarak miring berfluktuasi (variasi < 5 mm) (Lampiran 5). Pengukuran jarak miring dari SNB 10 ke SNB 11 dimulai lagi sejak tanggal 6 September 2014 menunjukan jarak miring berfluktuasi (variasi < 5 mm) (lampiran 5).



2.4 Fluks SO2 dan Suhu AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1.234 – 3.796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1.234 ton/hari. Pada periode 5 – 11 September 2014 fluks SO2 terukur berkisar antara 133 – 1263 Ton/hari (Lampiran 6).

Suhu mata air panas diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 di daerah Payung (03° 07' 35,5" LU, 98° 23' 13,3" BT) kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung. Pada periode 5 – 11 September 2014 suhu mata air panas Payung berkisar antara 53,2 - 54o C. Kandungan gas CO2 naik dari 24 ke 38 %, SO2 muncul pada 4 September 2014 sebesar 0,3 ppm, dan H2S terukur antara 0,5 – 1,2 ppm. Selama bulan September 2014, grafik suhu mata air panas secara umum terlihat mendatar (Lampiran 6).



III. POTENSI BAHAYA


Erupsi bersifat eksplosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.

Pertumbuhan kubah lava berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah selatan dan tenggara sejauh 5 km.

Guguran lava pijar dan awan panas yang berasal dari dekat puncak di sisi timur aliran lava mengancam ke arah Desa Bekerah-Desa Simacem (sektor tenggara-timur).

Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

Mengingat alterasi yang cukup kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan, yang terbatas pada daerah sekitar lembah.

Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

Pada aliran lava baru (2014) bukit Uruk Tuhan terjadi guguran lava disisi timur dan tenggara, menyebabkan menumpuknya material rombakan yang berpotensi menjadi lahar saat hujan lebat.



IV. KESIMPULAN


Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius < 5 km dari puncak.

Aktivitas vulkanik G. Sinabung masih berfluktuasi, berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi, dan fluks gas SO2.

Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Guguran, Tremor dan Gempa LF yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava atau lidah lava, mengindikasikan masih terjadinya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung, serta berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava-lidah lava yang masih berlangsung hingga saat ini.

Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan magma dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung maka sampai tanggal 11 September 2014 pukul 06:00 WIB tingkat aktivitas aktivitas G. Sinabung masih tetap SIAGA (Level III).

Pemantauan Gunungapi Sinabung dilakukan secara intensif dan menerus guna mengetahui kegiatannya. Evaluasi aktivitas G. Sinabung dilakukan setiap minggu dan tiap bulan. Pemahaman aktivitas G. Sinabung tentang ancaman erupsi dan pasca erupsi tetap dilakukan secara menerus melalui kegiatan sosialisasi

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.



V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam tingkat aktivitas SIAGA, maka kami rekomendasikan:


Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.

Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu :

Jangka Pendek :
Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman.

Jangka Panjang
Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.

Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari tingkat aktivitas SIAGA menjadi AWAS.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.
_______________________________

Evaluasi Status Kegiatan Siaga (level III) G. Sinabung Tanggal 15 – 30 Juni 2014
02 July 2014

Perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

I. pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB status kegiatan G. Sinabung diturunkan dari status AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III).
II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak tanggal 15 Juni 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 15 - 22 Juni 2014; Cuaca cerah, berawan, mendung-hujan, angin sedang-kencang ke arah timur, suhu udara 16-250C, gunung tampak jelas - tertutup kabut, saat gunung cerah teramati asap putih tebal, tinggi kolom ±. 50-1000 meter. Guguran lava dari dekat puncak lidah lava sejauh ±. 500-1500 meter kearah tenggara dan selatan, dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh ±. 300-1500 meter kearah selatan, dan dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh ±. 150-300 meter ke arah tenggara.

Tanggal 23 - 30 Juni 2014; Cuaca cerah, berawan, mendung-hujan, angin perlahan-kencang ke arah timur, suhu udara 18-280C. Gunung tampak jelas - tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap putih tipis-tebal tinggi ± 200 – 1000 meter. Guguran lava dari dekat puncak lidah lava sejauh ±. 500-1500 meter kearah tenggara, dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh ±. 200-800 meter ke arah selatan, dan dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh ±. 200 meter ke arah tenggara.. Tanggal 29 Juni 2014 pukul 19:29 WIB, terjadi erupsi dengan tinggi kolom asap ± 4000 meter dengan arah angin ke timur disertai hujan gerimis. luncuran awan panas kearah tenggara sejauh ± 4500 meter


2.2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 15 Juni 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 15 - 22 Juni 2014; 231 kali Gempa Guguran, 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ) dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 2-92 mm (dominan 10-13 mm).
Tanggal 23 – 30 Juni 2014; 1 kali Gempa Letusan, 405 kali Gempa Guguran, 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 2-90 mm (dominan 8-12 mm).

Selama periode 15 – 30 Juni 2014 gempa yang terekam adalah Gempa Guguran, Gempa Letusan, Gempa Tremor, Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Tektonik Jauh (TJ) dan Gempa Tektonik Lokal (Lampiran 2).

Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 2 – 92 mm (rata-rata dominan 8-12 mm). Gempa Vulkanik Dalam (VA), yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma secara umum masih fluktuatif. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, cenderung mengalami peningkatan, selama 15-30 Juni 2014, terekam 632 kali atau rata-rata sekitar 40 kejadian/hari. (Lampiran 2)

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa yang mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awanpanas intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat begitupun dengan jumlah kejadian awanpanas. Selama periode 15 – 30 Juni 2014 nilai RSAM terus menunjukkan pola cenderung menurun (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda Tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung) dan stasiun Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

2.3.1.1 Stasiun Lau Kawar

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November 2013) memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) dalam periode 15-30 Juni 2014 menunjukan deformasi yang bersifat deflasi, sumbu Y (radial) mempunyai pola yang sebaliknya (inflasi), pola ini mengindikasikan tekanan yang ditimbulkan pergerakan magma dari tempat yang dalam ke tempat yang lebih dangkal (Lampiran 4).

2.3.1.2 Stasiun Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu (sejak 5 Januari 2014 tidak merekam karena adanya gangguan pada sistem daya dan baru merekam lagi mulai tanggal 25 Februari 2014). Pada periode 15 – 30 Juni 2014 sumbu X menunjukan deformasi yang bersifat deflasi, sumbu Y (radial) mempunyai pola yang sebaliknya (inflasi), pola ini mengindikasikan peningkatan tekanan pada tempat magma dangkal (Lampiran 5).

2.3.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement) dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) (yang ada di lereng timur G. Sinabung) dan dari SNB 10 (baru) (Lau Kawar) terhadap reflektor SNB 11 (baru) (elevasi 2050 m, di lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengukuran EDM periode 15 – 30 Juni 2014 yaitu SNB 1 ke SNB 2 dan SNB 1 ke SNB 3, dari titik ukur baru Sukanalu yang sudah dipermanenkan (yaitu sekitar 1 meter bergeser dari titik lama), menunjukkan variasi jarak miring fluktuatif (variasi < 5mm) (Lampiran 6).

Hasil pengukuran EDM periode 15 – 30 Juni 2014 yaitu SNB 10 (baru) ke SNB 11 (baru) menunjukkan kecenderungan pemendekan jarak miring (inflasi), namun variasi perubahan jarak masih dalam kisaran < 10 mm) (Lampiran 7).

2.4. Fluks SO2 dan Suhu AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1234 ton/hari - 3796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari. Pada periode 15 –22 Juni 2014 pengukuran fluks SO2 terkendala dengan cuaca yang berkabut, pengukuran hanya dapat diakukan pada 24 Juni 2014 lk 543 ton/hari (Lampiran 8).

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 28 Juni 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 54,112 - 54,187oC, secara umum suhu mata airpanas perlahan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (Lampiran 8).

III. POTENSI BAHAYA

Erupsi bersifat explosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.
Pertumbuhan kubah lava berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah selatan dan tenggara sejauh 5 km.
Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Mengingat alterasi yang begitu kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan terbatas pada daerah sekitar lembah.
Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

IV. KESIMPULAN

Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius < 5 km dari puncak.
Aktivitas vulkanik G. Sinabung masih berfluktuasi, berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi dan fluks gas SO2.

Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Guguran dan tremor yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava atau lidah lava, yang mengindikasikan masih terjadinya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung, serta berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava-lidah lava yang masih berlangsung hingga saat ini.

Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan magma dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 1 Juli 2014 status kegiatan G. Sinabung masih tetap SIAGA (Level III).

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.

Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status SIAGA, maka kami rekomendasikan:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.

Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.

Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu Jangka Pendek : Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman. Jangka Panjang :Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.

Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari status SIAGA menjadi AWAS.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

______________________________

Evaluasi Status Kegiatan Siaga (level Iii) G. Sinabung Tanggal 01 – 17 Juni 2014 S/d. Pukul 12.00 Wib
18 June 2014


Perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
I. pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB. Sejak tanggal 8 April 2014 pukul 17:00 WIB status kegiatan G. Sinabung diturunkan dari status AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III).

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos PGA Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak tanggal 1 Juni 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 1 - 7 Juni 2014; Cuaca cerah, berawan, mendung-hujan, angin perlahan-kencang ke arah timur dan tenggara, suhu udara 17-290C, gunung jelas-tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati asap putih tebal, tinggi kolom lk. 100-600 meter. Guguran lava dari puncak lidah lava sejauh lk. 1500 meter kearah selatan, dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh lk. 500-1500 meter ke arah selatan, dan dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh lk. 200-300 meter kearah tenggara.

Tanggal 8 - 14 Juni 2014; Cuaca cerah, berawan, mendung-hujan, angin sedang-kencang ke arah timur dan tenggara, suhu udara 17-260C, gunung jelas-tertutup kabut, saat gunung tampak jelas teramati asap putih tebal, tinggi kolom lk. 100-1500 meter. Guguran lava dari puncak lidah lava sejauh lk. 1000-1500 meter kearah selatan, dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh lk. 150-2000 meter ke arah selatan, dan dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh lk. 100-1500 meter kearah tenggara.

Tanggal 15 - 17 Juni 2014 (hingga pukul 12:00 WIB); Cuaca cerah, berawan, mendung-hujan, angin sedang-kencang ke arah timur suhu udara 18-250C, gunung tertutup kabut, . Guguran lava dari dekat puncak lidah lava sejauh lk. 1000 meter kearah tenggara, dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh lk. 500 meter ke arah selatan, dan dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh lk. 200 meter ke arah tenggara.


2.2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak tanggal 1 Juni 2014 adalah sebagai berikut:

Tanggal 1 - 7 Juni 2014; 191 kali Gempa Guguran, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 2-95 mm (dominan 15 mm).

Tanggal 8 - 14 Juni 2014; 196 kali Gempa Guguran, 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 2-94 mm (dominan 13-15 mm).

Tanggal 15 - 17 Juni 2014 (hingga pukul 12:00 WIB); 66 kali Gempa Guguran, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan Getaran Tremor terekam terus menerus dengan amplituda 2-85 mm (dominan 12-15 mm).

Selama periode 1 – 17 Juni 2014 gempa vulkanik yang terekam adalah Gempa Guguran, Tremor, Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Tektonik Jauh (TJ) (Lampiran 2).

Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi antara 2 – 95 mm (rata-rata dominan 12-15 mm). Gempa Vulkanik Dalam (VA), yang mengindikasikan adanya tekanan akibat intrusi magma secara umum cenderung menurun meski sempat mengalami sedikit peningkatan. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, cenderung menurun meski sempat mengalami sedikit peningkatan, hingga 17 Juni 2014 pukul 12.00 WIB terekam 453 kali atau rata-rata sekitar 25 kejadian/hari. (Lampiran 2)

Sejak tanggal 17 Februari hingga 17 Juni 2014 Gempa Erupsi eksplosif tidak terekam.

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa yang mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awanpanas intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat begitupun dengan jumlah kejadian awanpanas. Selama periode 1 – 16 Juni 2014 nilai RSAM menunjukkan pola cenderung menurun namun belum signifikan (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda Tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu: stasiun Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung) dan stasiun Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

2.3.1.1 Stasiun Lau Kawar

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November 2013) memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) dalam periode 1 – 17 Juni 2014 relatif stabil, sumbu Y (radial) juga relatif stabil, pola ini mengindikasikan tekanan yang ditimbulkan pergerakan magma dari tempat yang dalam ke tempat yang lebih dangkal kurang signifikan (Lampiran 4).

2.3.1.2 Stasiun Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu (sejak 5 Januari 2014 tidak merekam karena adanya gangguan pada sistem daya dan baru merekam lagi mulai tanggal 25 Februari 2014). Pada periode 1 – 17 Juni 2014 baik komponen sumbu X (tangensial) maupun komponen sumbu Y (radial) relatif stabil, yang mengindikasikan pergerakan magma dangkal relatif kurang signifikan (Lampiran 5).

2.3.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement) dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) (yang ada di lereng timur G. Sinabung) dan dari SNB 10 (baru) (Lau Kawar) terhadap reflektor SNB 11 (baru) (elevasi 2050 m, di lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengukuran EDM periode 1 – 17 Juni 2014 yaitu SNB 1 ke SNB 2 dan SNB 1 ke SNB 3, dari titik ukur baru Sukanalu yang sudah dipermanenkan (yaitu sekitar 1 meter bergeser dari titik lama), menunjukkan variasi jarak miring fluktuatif (variasi < 5mm) (Lampiran 6).

Hasil pengukuran EDM periode 1 – 14 Juni 2014 yaitu SNB 10 (baru) ke SNB 11 (baru) menunjukkan kecenderungan pemendekan jarak miring (inflasi) namun variasi perubahan jarak masih dalam kisaran < 5 mm) (Lampiran 7).

2.4. Fluks SO2 dan Suhu AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1234 ton/hari - 3796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari. Pada periode 1 – 14 Juni 2014 pengukuran fluks SO2, terendah lk 154 ton/hari dan tertinggi 984 ton/hari, yang mengindikasikan masih adanya suplai magma yang berubah-ubah (Lampiran 8).

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 17 Juni 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 54,037 - 54,15oC, secara umum suhu mata airpanas perlahan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, sementara kejadian letusan sudah tidak terjadi lagi (Lampiran 8).

III. POTENSI BAHAYA

Erupsi bersifat explosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.
Pertumbuhan kubah lava berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah selatan dan tenggara sejauh 5 km.
Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Mengingat alterasi yang begitu kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan terbatas pada daerah sekitar lembah.
Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.

IV. KESIMPULAN

Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius < 5 km dari puncak.
Aktivitas vulkanik G. Sinabung masih berfluktuasi, berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi dan fluks gas SO2.

Kegempaan masih didominasi oleh Gempa Guguran dan tremor yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava atau lidah lava, yang mengindikasikan masih terjadinya tekanan di area dangkal di bawah Kawah G. Sinabung, serta berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava-lidah lava yang masih berlangsung hingga saat ini.

Data deformasi mengindikasikan adanya perpindahan magma dari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal, namun relatif kecil.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sinabung hingga tanggal 17 Juni 2014 pukul 12:00 WIB status kegiatan G. Sinabung masih tetap SIAGA (Level III).

Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.
Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

V. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status SIAGA, maka kami rekomendasikan:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.
Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.

Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.

Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinggi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.

Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu :

Jangka Pendek :
Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman.

Jangka Panjang
Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.

Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.

BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari status SIAGA menjadi AWAS.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.

_______________________________________

PVMBG: Penurunan Status Kegiatan G. Sinabung Dari Awas (level Iv) Menjadi Siaga (level Iii), 8 April 2014

08 April 2014

Page 1 of 2

Bersama ini dengan hormat disampaikan tentang perkembangan kegiatan G. Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

I. Pendahuluan

Gunungapi Sinabung berbentuk strato, secara administratif terletak di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan secara geografis terletak pada posisi 3º 10’ LU, 98º 23,5’ BT dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut.

Pasca peningkatan aktivitas vulkanik G. Sinabung dari Waspada menjadi Siaga pada tanggal 3 November 2013, aktivitas vulkanik meningkat secara fluktuatif hingga 22 November 2013. Aktivitas G. Sinabung meningkat secara siginifikan pada 23 dan 24 November 2013 sehingga status G. Sinabung dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV) pada tanggal 24 November 2013 pukul 10:00 WIB.

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Pemantauan secara visual yang dilakukan dari Pos Pemantauan Gunungapi (PGA) Sinabung yang terletak di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat yang berjarak sekitar 8,5 km dari puncak Sinabung. Hasil pemantauan secara visual sejak lk. 3 minggu terakhir (16 Maret – 8 April 2014 hingga pkl 12:00 WIB) adalah sebagai berikut :

Tanggal 16-22 Maret 2014, cuaca cerah - mendung, hujan gerimis-deras pada 16, 17,18 dan 20 Maret masing-masing, pkl 13.32-15.25 WIB, pkl (14:00-14:15;18:16-18:30 WIB, pkl 13:46-14:00 WIB dan pkl (14:35-14:58;20:17-21:40) WIB. Dalam awal-pertengahan periode angin tenang - sedang ke arah barat-baratdaya, dan berubah ke arah timur. Suhu udara 16 – 25oC. Gunung tampak jelas - tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 50 – 1000 m, awan panas pada 17 Maret sejauh 3000 m ke arah selatan, guguran lava dari puncak sejauh 500-2500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 250 – 1500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-500 m ke arah tenggara.
Tanggal 23-29 Maret 2014, cuaca cerah - mendung, hujan gerimis-sedang pada 29 Maret pkl 09.30-10.35 WIB, angin tenang - sedang ke arah barat, suhu udara 15 – 27oC. Gunung tampak jelas - tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 700 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500-2000 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 500 – 1000 m ke arah selatan, guguran dari tengah lidah lava (sisi timur) sejauh 100-500 m ke arah tenggara,guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 150-300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 300 m ke arah tenggara.

Tanggal 30 Maret – 5 April 2014, cuaca cerah – mendung. Hujan gerimis-deras pada 31 Maret pkl 12.20-13.20 WIB, hujan gerimis pada 1 dan 2 April (masing-masing pada pkl 16.30-17.25 WIB dan 18:50-19:30 WIB), hujan gerimis-sedang pada 4 April pkl 17:35-18:00 WIB, dan hujan gerimis-deras pada 5 April (pkl 10:11-12:00;17:25-17:40 WIB). Dalam periode ini angin tenang - sedang berubah arah hampir setiap hari yaitu mulai dari ke arah barat, timur, baratlaut-baratdaya, dan kembali ke arah barat. Suhu udara 15 – 26oC. Gunung tampak jelas - tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 1200 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 400 – 1500 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-200 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-300 m ke arah tenggara.
Tanggal 6 – 8 April 2014 (hingga pukul 12:00 WIB), cuaca cerah – mendung. Angin tenang - perlahan ke arah selatan dan baratdaya. Suhu udara 17 – 25oC. Gunung tampak jelas - tertutup kabut. Teramati: asap putih tebal tinggi 100 – 1000 m, guguran lava dari puncak sejauh 1500 m ke arah selatan, guguran lava dari tengah lidah lava (sisi barat) sejauh 300 – 1000 m ke arah selatan, lava dari tengah lidah lava (sisi timur) sejauh 500 m ke arah tenggara, guguran dari ujung lidah lava (sisi barat) sejauh 100-300 m ke arah selatan, guguran dari ujung lidah lava (sisi timur) sejauh 100-200 m ke arah tenggara.

2.2. KEGEMPAAN

Hasil rekaman kegempaan sejak lk. 3 minggu terakhir (16 Maret – 8 April 2014 hingga pukul 12:00 WIB) adalah sebagai berikut:

Tanggal 16-22 Maret 2014: 1645 kali Gempa Guguran, 13 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 5 – 55 mm (rata-rata dominan 20 mm).
· Tanggal 23-29 Maret 2014: 1461 kali Gempa Guguran, 14 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 50 mm (rata-rata dominan 14 mm).
Tanggal 30 Maret- 5 April 2014: 1188 kali Gempa Guguran, 20 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) terasa MMI II, dan 2 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 45 mm (rata-rata dominan 21 mm).
Tanggal 6 - 8 April 2014 (hingga pkl 12:00 WIB) : 313 kali Gempa Guguran, 1 (satu) kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ). Getaran Tremor terekam menerus dengan amplituda 2 – 43 mm (rata-rata dominan 18 mm).

Selama periode 16 Maret – 8 April 2014 gempa vulkanik yang terekam adalah Gempa Guguran, Tremor, Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Tektonik Lokal (TL) dan Gempa Tektonik Jauh (TJ) (Lampiran 2).

Tremor menerus masih terekam dengan amplituda bervariasi 2–55 mm (rata-rata dominan 14-21 mm). Gempa Vulkanik Dalam (VA), mengindikasikan masih adanya tekanan yang relatif kecil akibat intrusi magma, dengan total terekam 46 kejadian atau rata-rata 2 kejadian/hari. Gempa Guguran, yang berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava-lidah lava, cenderung menurun. Dalam lk. 21 hari terakhir ini terekam 4294 kali Gempa Guguran atau sekitar 204 kejadian Gempa Guguran/hari.

Sejak tanggal 16 Maret hingga 8 April 2014 Gempa Erupsi explosif tidak pernah terekam.

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa yang mencapai puncaknya pada 11 dan 16 Januari 2014. Pada periode waktu tersebut selain nilai RSAM yang naik, bersamaan juga dengan kejadian awanpanas intensif. Setelah periode itu nilai RSAM menurun secara cepat begitupun dengan jumlah kejadian awanpanas. Pada periode 16 Maret – 8 April 2014 nilai RSAM menunjukkan penurunan walaupun berfluktuasi (Lampiran 3).

2.3 DEFORMASI

Pengamatan deformasi dilakukan dengan metoda tiltmeter dan Electronic Distance Measurement (EDM).

2.3.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasion Sukanalu (elevasi 1468 m, lereng timur gunung), stasion Lau Kawar (elevasi 1468 m, lereng utara gunung).

2.3.1.1 Stasion Lau Kawar

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Lau Kawar (dipasang tanggal 17 November 2013) memperlihatkan komponen sumbu X (tangensial) dalam periode 16 Maret – 8 April 2014 relatif stabil sedangkan sumbu Y (radial) menunjukkan pola fluktuasi (< 200 mikroradian) namun cenderung stabil, pola ini mengindikasikan kurang intensifnya pergerakan magma dari tempat yang dalam ke tempat yang lebih dangkal (Lampiran 4).

2.3.1.2 Stasion Sukanalu

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Sukanalu (sejak 5 Januari 2014 tidak merekam karena adanya gangguan pada sistem daya dan baru merekam lagi mulai tanggal 25 Februari 2014), dalam periode 16 Maret – 8 April 2014 komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola fluktuasi dari deflasi ke inflasi (< 100 mikroradian), sedangkan komponen sumbu Y (radial) memperlihatkan pola fluktuasi dari inflasi ke deflasi (< 100 mikroradian). Pola fluktuasi inflasi-deflasi pada komponen sumbu Y sudah pernah juga terjadi sebelum periode ini, mengindikasikan adanya pergerakan magma dangkal yang relatif kurang signifikan (Lampiran 5).

2.3.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement) dilakukan dari Desa Sukanalu (SNB 1) terhadap dua reflektor, yaitu SNB 2 (elevasi 1436 m), SNB 3 (elevasi 1626 m) (yang ada di lereng timur G. Sinabung) dan dari SNB8 (baru) (Lau Kawar) terhadap reflektor SNB9 (baru) (elevasi 2050 m, di lereng utara G. Sinabung).

Hasil pengukuran EDM periode 22 – 8 April 2014 yaitu SNB 1 ke SNB 2 dan SNB 1 ke SNB 3, dari titik ukur baru Sukanalu yang sudah dipermanenkan (yaitu sekitar 1 meter bergeser dari titik lama), menunjukkan variasi jarak miring cenderung stabil (variasi masih dalam kisaran < ~ 5 mm) (Gambar 6).

Hasil pengukuran EDM periode 02 – 8 April 2014 yaitu SNB 8 (baru) ke SNB 9 (baru) menunjukkan variasi jarak miring cenderung stabil (variasi masih dalam kisaran < ~ 5 mm) (Gambar 7).

2.4. Fluks SO2 dan Suhu AIR PANAS

Setelah terjadinya erupsi dengan durasi yang cukup lama pada tanggal 11-18 Januari 2014, fluks SO2 cukup tinggi dan berfluktuasi sedikit yaitu berkisar 1234 ton/hari - 3796 ton/hari, setelah itu menurun hingga 1234 ton/hari. Pada periode 16 Maret – 2 April 2014 pengukuran fluks SO2 berkisar 444 ton/hari dan 777 ton/hari, yang mengindikasikan masih adanya suplai magma yang berubah-ubah namun relatif tidak signifikan (Lampiran 8).

Suhu mata airpanas yang diukur secara kontinyu sejak awal Oktober 2013 sampai 5 April 2014 di daerah Payung (kaki gunung ke arah Selatan dari puncak G. Sinabung) berkisar antara 53,8 - 54,11oC, secara umum suhu mata airpanas perlahan mengalami peningkatan namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, sementara kejadian letusan sudah tidak terjadi lagi (Lampiran 8).



III. POTENSI BAHAYA

Erupsi bersifat explosif masih berpotensi terjadi namun ancamannya terbatas pada radius kurang dari 3 km.
Pertumbuhan kubah lava berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava pijar, dan awan panas. Kejadian guguran lava pijar dari kubah lava, aliran lava, dan awan panas masih mengancam ke arah Selatan dan Tenggara sejauh 5 km.
Potensi aktivitas pada lubang tembusan fumarola baru di lereng utara (Lau Kawar) masih ada, walaupun sampai saat ini sudah tidak menunjukkan perkembangan.
Mengingat alterasi yang begitu kuat, ini akan memperlemah kestabilan lereng bagian utara dan berpotensi menimbulkan longsor dan banjir bandang pada waktu musim hujan terbatas pada daerah sekitar lembah.
Potensi terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Sinabung.



IV. LAIN-LAIN

Letusan disertai awan panas yang terjadi pada 1 Februari 2014 pukul 10:30 WIB, telah mengakibatkan timbulnya 17 korban jiwa: 14 korban yang meninggal dunia ditemukan di lokasi berjarak 3 km dari puncak G. Sinabung (di wilayah Desa Sukameriah), sedangkan 3 orang yang sebelumnya mengalami luka bakar telah meninggal dunia di rumah sakit, saat itu sedang berada di dalam Desa Sukameriah yang berjarak 4 km dari puncak.



V. KESIMPULAN

Bahaya erupsi G. Sinabung berupa pertumbuhan kubah disertai pertumbuhan lidah lava dan guguran lava pijar dari puncak, tengah dan ujung lidah lava, yang ancamannya ke arah selatan dan tenggara dalam radius < 5 km dari puncak.
Aktivitas vulkanik G. Sinabung menunjukkan penurunan (walaupun berfluktuasi kecil), berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, deformasi dan fluks gas SO2.
Berdasarkan data dan analisis data pengamatan di atas maka status kegiatan G. Sinabung diturunkan dari status AWAS (level IV) menjadi SIAGA (level III) terhitung sejak 8 April 2014 pukul 17:00 WIB.
Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sinabung secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.
Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sinabung, serta pemahaman akan aktivitas G. Sinabung harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sinabung.

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Sinabung dalam status SIAGA, maka kami rekomendasikan:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan melakukan aktivitas di dalam radius 3 km, dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km untuk arah selatan dan tenggara G. Sinabung yang merupakan bukaan lembah gunung tempat terjadi aliran lava dan awan panas.
Masyarakat yang berada di dalam radius 3 km, yaitu yang bermukim di Kecamatan Payung (Desa Sukameriah) dan Kecamatan Naman Teran (Desa Bekerah, Desa Simacem), agar tetap diungsikan.
Masyarakat yang tinggal di luar radius 3 km dari Kawah G. Sinabung yang berpotensi terancam oleh guguran lava dan luncuran awan panas, yaitu 4 Desa dan 1 Dusun yang tersebar dalam 3 Kecamatan yaitu : Kecamatan Payung (Guru Kinayan); Kecamatan Naman (Desa Kutatonggal), Kecamatan Simpang Empat (Desa Berastepu dan Dusun Sibintun serta Desa Gamber), agar tetap diungsikan.
Masyarakat yang tinggal di 4 Kecamatan, yaitu : Kecamatan Tiga Nderket (Desa Mardinding, Desa Perbaji); Kecamatan Payung (Desa Selandi); Kecamatan Naman Teran (Desa Sukanalu, Desa Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat, Desa Kutagugung dan Dusun Lau Kawar), dan Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dapat kembali ke rumah masing-masing setelah membersihkan atap yang terkena abu vulkanik tebal/mengganti atap, serta melakukan kegiatan seperti biasa.
Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar menyiapkan/menambahkan jalur evakuasi dari Desa Kuta Tengah yang jalurnya menjauhi daerah bahaya, sebelum masyarakat di Kecamatan Simpang Empat (Desa Kutatengah) dikembalikan dari tempat pengungsian.
Sehubungan dengan kejadian curah hujan yang masih tinngi, maka masyarakat yang bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.
Masyarakat di sekitar G. Sinabung diharap tenang tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi G. Sinabung, dan agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas G. Sinabung.
Lokasi pemukiman yang berada di bukaan kawah sangat berbahaya jika kelak dikemudian hari terjadi erupsi dan atau banjir lahar, oleh karena itu :

Jangka Pendek : Merelokasi pemukiman dan aktivitas penduduk Desa Sukameriah, Desa Bekerah dan Desa Simacem ke lokasi yang aman.

Jangka Panjang : Merelokasi pemukiman yang terletak di dalam radius 5 km (namun terletak di bukaan kawah, yaitu Desa Guru Kinayan, Desa Berastepu, Desa Gamber, dan Dusun Sibintun) ke lokasi yang aman.
Pihak Pemerintah Daerah agar menyiapkan sarana komunikasi seluruh perangkat kerjanya, melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaitan daerah-daerah bahaya yang masih terancam, serta menambahkan/memperbaiki jalur evakuasi, sehingga mempermudah mengantisipasi ancaman bahaya erupsi jika tiba-tiba terjadi situasi yang membuat panik masyarakat.
BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo tetap Siaga mengantisipasi jika sewaktu-waktu G. Sinabung meningkat kembali dari status SIAGA menjadi AWAS.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.
Pemerintah Daerah Kabupaten Karo agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung di Jl. Kiras Bangun, Gg Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sinabung.


_________________________
Credibility: UP DOWN 0

Leave a Comment
Name:
Email:
Comments:
Security Code:
16 + 7 =

Additional Reports

Kumpulan Video Erupsi Sinabung

14:44 Oct 06, 2014

Kabanjahe, Kabanjahe, Karo, North Sumatra, Indonesia, 0 Kms

MediaPict Update 13/10/14: #Sinabung: Pictures of the day

18:33 Mar 01, 2015

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Lau Cimba, Kabanjahe, Karo, Sumatra Utara 22115, Indonesia, 0.05 Kms

Update 31/8/14: Pos Zentrum Kabanjahe sudah Kosong tgl 17/07/2014

19:47 Aug 31, 2014

Zentrum GBKP, 0.19 Kms